Diduga Sumur Umum Ditutup Oleh Oknum, Warga Unuran Gali Sumur
"Kalau musim kemarau, sumur tersebut besar manfaatnya bagi warga, karena menjadi tempat pelarian untuk mengambil air bersih.
TRIBUNSUMSEL.COM, EMPATLAWANG -- Warga Kelurahan Tanjungkupang, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Empatlawang yang biasa memanfaatkan sumur umum di sekitaran tebing Alay kelurahan tersebut menjadi kesulitan mendapatkan air bersih. Pasalnya, sumber air bersih yang cukup memenuhi kebutuhan warga, karena mata airnya yang cukup besar, meskipun musim kemarau diduga ditutup oleh salah seorang oknum.
Oleh karena itu, wargapun terpaksa menggal sumur yang baru tidak jauh di sumur yang ditutup tersebut. Tidak hanya itu, untuk biaya penggaliannya wargapun terpaksa urunan dengan cara sumbangan dari rumah ke rumah.
Pengamatan Sripo di lapangan, Kamis (6/8), sumur galian yang berada di sekitaran Jalintensum, kawasan Tebing Alay, Kelurahan Tanjungkupang sudah ditutup dengan cor beton. Karenanya, warga yang biasa memanfaatkan sumur tersebut tak bisa mengambil air.
Di sebelah sumur lama tersebut telah digali sumur yang baru, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Sumur tersebut terlihat mulai dipenuhi air yang jernih. Di sekitar sumur tersebut pun juga dicor beton, sehingga nantinya tidak berlumpur.
Menurut sejumlah warga, sumur tersebut ditutup oleh salah seorang oknum. Bahkan, warga sempat mendatangi pelaku, namun oknum tersebut berdalih, bila ingin air silahkan mengambil di tempatnya. Karena dengan keterangan yang kurang memuaskan itu, warga berinisiatif menggali sumur yang baru.
"Kalau musim kemarau, sumur tersebut besar manfaatnya bagi warga, karena menjadi tempat pelarian untuk mengambil air bersih. Pasalnya, sumber airnya tidak pernah kering, meskipun kemarau panjang sekalipun," ungkap Samsul, salah seorang warga.
Dikatakannya, karena keperluan air bersih tidak bisa tidak dipenuhi, sementara sumur milik warga sendiri mulai banyak yang kering, lantaran daerah dataran tinggi. Maka, masyarakat pun menggali sumur baru dengan dana urunan sumbangan sukarela. Warga tidak putus asah dengan penutupan sumur yang lama.
"Demi kebutuhan masyarakat banyak, bagaimanapun perlu digali sumur yang baru, meskipun dananya harus urunan. Kita tidak begitu mempermasalahkan dan tidak mau berurusan. Ya, cuma heran saja mengapa oknum tersebut menutup sumur yang lama tanpa alasan yang jelas," tandasnya.
Sementara, Sari, ibu rumah tangga mengaku tidak keberatan dengan adanya sumbangan tersebut, lagian pula sifatnya sukarela. Lagi pula sumur tersebut untuk keperluan masyarakat banyak, terutama pada musim kemarau. Pasalnya, selain sumur pribadi yang sebagian besar mengalami kekeringan, sarana air bersih, yakni PAM belum menjangkau ke perumahan penduduk.
"Kami juga sering ngambil air sumur itu bila sumur mulai kering, apalagi musim kemarau. Ya, itukan sifatnya sumbangan seberapapun kita mampu. Harapannya, dengan dana yang terkumpul bisa digali sumur yang baru, sehingga warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih, meskipun ke sumur tersebut jaraknya cukup jauh dari perumahan," katanya.