Rupiah Lemah, Politisi PDIP Nilai Situasi Ekonomi Berbeda dengan Krisis 98

Menurut Andreas, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini karena adanya hantaman di bidang industri. Dimana sebagian besar bahan baku utama industri

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Petugas teller melayani penukaran mata uang dolar AS dengan rupiah di Bank Mutiara, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA‎ - Anggota Komisi XI DPR dari PDIP Andreas Eddy Susetyo ‎menilai situasi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis 1998.

Meskipun telah terjadi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini.

"Kalau saya lihat situasinya beda. Kalau dimulai 1998 dimulai krisis perbankan. Tapi jangan sampai karena pemahaman masyarakat dan cara komunikasi yang tidak tepat, nanti masyarakat awam melihatnya sama. Karena dollar AS Rp13 ribu jadi 15 ribu, jadi kemudian dipercaya (seperti 1998) dan menjadi lebih memperparah," kata Andreas ketika dikonfirmasi, Senin (3/8/2015).

Menurut Andreas, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini karena adanya hantaman di bidang industri. Dimana sebagian besar bahan baku utama industri diperoleh dari import. Perusahaan juga melakukan pinjaman barang modal dengan mata uang Dolar.‎

"Penggunaan Dolar meningkat dan adanya kekhawatiran menghantam industri yang berakhir dengan PHK," katanya.

Sementara, perusahaan tidak bisa menaikkan harga produk karena daya beli masyarakat yang menurun. ‎Ia pun menyarankan agar pemanku kepentingan seperti Gubernur BI dan Menteri Keuangan saling berintegrasi untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Pemangku kepentingan tidak saling menyalahkan, tapi duduk bersama berintegrasi. Jangan bertindak sendiri-sendiri," ujarnya.

‎Andreas meminta pemerintah bekerja keras meningkatkan penerimaan devisa dengan masuk kepasar-pasar baru seperti negara-negara Afrika. Kemudian meningkatkan devisa dengan menarik wisatawan mancanegara.

"Untuk meningkatkan supply Dollar menarik devisa hasil ekspor ke Indonesia," kata Andreas.

Sumber: Tribunnews
Tags
Rupiah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved