Breaking News:

Opini

Dambakan Nakhoda Unsri Pemantik Revolusi Mental

Hasil penyaringan kandidat Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) masa jabatan 2015-2019 telah mengkerucut tiga nama dari lima orang bakal calon sebelum

Dambakan Nakhoda Unsri Pemantik Revolusi Mental
TRIBUNSUMSEL.COM
Icon Tribunsumsel.com

 TRIBUNSUMSEL.COM - Hasil penyaringan kandidat Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) masa jabatan 2015-2019 telah mengkerucut tiga nama dari lima orang bakal calon sebelumnya. Ketiga kandidat itu yakni Prof Dr Anis Saggaf dari Fakultas Teknik, Prof Amzulian Rifai dari Fakultas Hukum dan Prof Slamet Widodo dari FISIP.

Kini banyak harapan yang digandulkan civitas academica pada pundak mereka dikala nyata memegang amanah orang nomor satu di kampus yellow jacket itu kelak. Termasuk, ekspektasi publik Sumatra Selatan (Sumsel) khususnya dan Tanah Air umumnya. Salah satu ekspektasi tersebut opini bertajuk Rektor Layak Kutip dan Jago Lobi yang ditulis Maspril Aries, pada Tribun Sumsel edisi Senin (15/6). Antara lain menyebutkan, mencari Rektor Unsri yang terbaik memang harus dilakukan, tetapi mencari Rektor Unsri yang layak kutip sangat dibutuhkan saat ini dan ke depan.

Diperlukan sebuah revolusi mental, sebuah gerakan yang mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku setiap orang untuk berorientasi pada kemajuan...
untuk memulai revolusi itu bisa pula dilakukan di Unsri dengan nakhoda yang siap memantiknya di tataran civitas akademika, lewat nilai-nilai integritas, kerja keras dan punya semangat gotong royong

Siapa pun yang terpilih pada pemilihan nanti, pantas rasanya untuk menitip harapan kepada anggota Senat Unsri yang terhormat untuk memilih Rektor Unsri ke depan adalah rektor yang layak kutip. Bukan rektor yang diam dan lebih senang mengumbar pernyataan ‘’off the record’’ atau nomor telepon selulernya payah dihubungi.

Terkait hal di atas, kalau sekedar berharap boleh lah, tetapi karena tesis pada tulisan tersebut menggunakan pendekatan jurnalistik. Penulis tergelitik untuk melihat pula dari perspektif yang sama. Menurut penulis, untuk penegasan (konfirmasi) sebuah berita tentu pernyataan rektor tidak perlu diragukan lagi untuk dikutip, sepanjang itu memang domainnya.

Tak elok pula menganggap rektor menjadi naif karena enggan mengeluarkan pernyataannya terkait sebuah berita, sedangkan itu memang bukan bagian dari diskresinya sebagai pimpinan perguruan tinggi.
Dari sudut akademis, bolehlah berharap sang rektor yang tentu pakar di bidang ilmu pengetahuan (bukan di luar ilmu yang digelutinya) menjadi nara sumber untuk sebuah berita. Hal itu cukup patut sebagai akademisi yang memiliki kebebasan mimbar akademik dan bertanggungjawab secara pribadi, namun tetap pada koridor keilmuan yang dikuasainya.

Lampiran Statuta Unsri (Keputusan Mendiknas No 064/0/2003), Pasal 26 ayat 3 menyebutkan, kebebasan mimbar akademik berlaku sebagai bagian dari kebebasan akademik yang memungkinkan dosen menyampaikan pikiran dan pendapat di Unsri sesuai dengan norma dan kaidah keilmuan. Statuta itu juga tidak melarang dosen untuk menggunakan kebebasan mimbar akademiknya di luar Unsri (Pasal 27 ayat 5) yang penting tidak merugikan kampus (Pasal 27 ayat 2).

Penulis berpendapat, justru jurnalis dikategorikan telah mengabaikan kaidah jurnalistik apabila memaksakan seorang rektor untuk urun rembuk menanggapi semua peristiwa yang hendak ditulis. Dikhawatirkan fakta pada berita akan bias alias ‘’nggak nyambung’’.
Dalam jurnalistik, dikenal ada tingkatan nara sumber yakni nara sumber primer (utama) adalah mereka yang terlibat langsung dalam sebuah peristiwa atau saksi mata.

Nara sumber sekunder merupakan pihak-pihak yang berwenang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Selanjutnya nara sumber tersier yakni orang-orang yang punya pengetahuan dibidangnya namun tidak terlibat dalam peristiwa itu, atau biasa kita sebut sebagai pengamat/pakar. Suara mereka tetap penting untuk dijadikan bahan, karena keahlian mereka di bidang itu.

Tingkatan di atas menunjukkan kekuatan faktual sebuah berita yang diungkap wartawan. Terkait dengan istilah ‘‘layak kutip’’ berarti berhubungan dengan tingkatan nara sumber seperti yang disebutkan. Nah, dalam opini yang ditulis Maspril tidak menyebutkan kira-kira dimana tingkatan nara sumber untuk rektor (Unsri). Kalau posisi rektor sebagai sumber primer dan sekunder tentu sangat layak kutip, sekali pun hanya kalimat ‘’off the record’’. Namun apabila menempatkan rektor sebagai sumber tersier maka harus dilihat konteks dan konten beritanya. Penulis berpendapat, sebagai sumber tersier pernyataan rektor akan layak kutip kalau berita itu berkaitan dengan kepakarannya serta dapat dipertanggungjawabkan, begitu pula sebaliknya.
Penulis sepakat apabila publik berharap Rektor Unsri mendatang merupakan sosok yang terbuka dan tidak pelit untuk bicara (termasuk kepada jurnalis).

Pabrik intelektrual
Lebih dari itu, layaknya ‘pabrik intelektual’, kampus yang bermarkas di Indralaya, Ogan Ilir (OI) itu diharapan terus menghasilkan produk-produk unggulan yang laris manis dan disegani di pasaran. Di situ peran signifikan sang rektor yang mampu menggerakkan mesin-mesin produksi kampus agar produktif mengejawantahkan Tri Dharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada mansyarakat). Apalagi saat ini kondisi bangsa Indonesia tengah diterpa tiga permasalahan utama yakni, merosotnya wibawa pemerintah, lemahnya sendi perekonomian bangsa, serta intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

Untuk itu diperlukan sebuah revolusi mental, sebuah gerakan yang mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku setiap orang untuk berorientasi pada kemajuan dan kemodernan sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi lawan bangsa-bangsa di dunia. (Sugihartatmo, dalam lokakarya Bakohumas, di Palembang, 2015).

Menurut penulis untuk memulai revolusi itu bisa pula dilakukan di Unsri dengan nakhoda yang siap memantiknya di tataran civitas academica, lewat nilai-nilai integritas (jujur, dapat dipercaya, berkarakter serta memiliki tanggungjawab), kerja keras (punya etos kerja, daya saing, optimistis, inovatif dan produktif), semangat gotong royong (ada rasa kerja sama, solidarita, komunal, serta berorientasi pada kemaslahatan).
Penulis juga mendambakan sosok orang nomor satu di Unsri itu kelak dapat menggiring dosen dan mahasiswa tidak cuma piawai di ruang kelas tetapi moncer pula di ruang publik lewat karya-karya tulis populernya (artikel, esai dan features) di beragam media massa. Dan tidak perlu sungkan ‘merogoh kocek’ sebagai reward untuk itu. ***

Oleh : Baharman Hasyim
Mahasiswa Ilmu Hukum Pasca Sarjana Unsri

Tags
Opini
Editor: Aidil Putrasyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved