Jurnalis Usia 71 Tahun Ini yang Menggulingkan Sepp Blatter
Jennings telah meneliti praktik korupsi dalam tubuh FIFA selama limabelas tahun.
TRIBUNSUMSEL.COM, LONDON - Buat jurnalis investigasi Andrew Jennings, terbongkarnya skandal suap di tubuh badan sepakbola dunia (FIFA) merupakan buah dari penyelidikan dan kerja keras yang dilakukannya.
Jennings telah meneliti praktik korupsi dalam tubuh FIFA selama limabelas tahun. Pada masa itu ia melaporkan hasil investigasinya kepada publik melalui tulisan di media massa, buku dan dokumenter yang disiarkan BBC.
Jurnalis berusia 71 tahun ini dilahirkan di Irlandia dan pada masa kecilnya pindah ke London. Memiliki kakek seorang pemain sepakbola dari klub sepakbola Clapton Orient, Jennings memang memiliki gairah sendiri dalam meneliti praktik korupsi di dunia sepakbola.
Padahal ia sebenarnya seorang jurnalis investigasi yang juga mencoba membongkar praktik korupsi di banyak sektor kehidupan. Investigasi yang dilakukannya terkadang melampaui keberanian institusi tempatnya bekerja. Seperti ketika ia memutuskan mundur saat BBC menolak menyiarkan dokumenter tentang praktik korupsi yang berkaitan dengan badan kepolisian Inggris, Scotland Yard.
Merapatnya Jennings dengan FIFA terjadi pada 2002, ketika Seopp Blatter terpilih lagi sebagai ketua FIFA. Dalam konferensi pers yang dilakukan, Jennings mengajukan pertanyaan, "Herr Blatter, apakah anda pernah menerima suap?" Tentu saja Blatter membantah.
Pertanyaan ini langsung menimbulkan guncangan di kalangan petinggi FIFA. Mereka sadar ada jurnalis yang berminat membongkar praktik yang selama ini disebut terjadi di lembaga itu. Enam pekan setelah konferensi per tersebut, Jennings menerima setumpuk dokumen rahasia dari seorang petinggi FIFA.
"Saat itu saya sedang berjalan di jalan yang gelap di Zurich. Tiba-tiba seseorang menarik saya ke ruangan dan memberi saya setumpuk dokumen," kata Jennings.
Dokumen ini mengungkap bagaimana Blatter memperkaya diri sendiri dengan uang organisasi. Jennings mencoba menuliskan hal ini, termasuk pemakaian pesawat pribadi oleh Blatter. Akibatnya, pada 2003 ia dilarang ikut dalam semua kegiatan FIFA termasuk konferensi pers. Blatter bahkan mengancam akan menyeretnya ke pengadilan, namun tak pernah dilakukan.
Beberapa tahun lalu, Jennings dihubungi orang-orang dari dinas rahasia Inggris (MI6) dan biro penyeleidik federal (FBI) yang meminta bantuannya mengungkan skandal suap di FIFA. "Pada 2009 lalau saya diundang dalam sebuah pertemuan misterius. Saya ditemui tiga orang berpakaian rapi. Belakangan saya tahu, salah satu dari mereka adalah seorang mantan marinir," kata Jennings.
"Orang-orang ini memiliki kualifikasi membunuh dan menangkap orang-orang seperti bos mafia, Al Capone dan John Gotti. Mereka meminta saya untuk memancing Sepp Blatter dan jaringan di FIFA," lanjutnya.
Jennings memang sudah dikenal dengan kemampuan investigasi mengungkap skandal korupsi. Pada 1989 ia mengeluarkan buku yang berjudul," Scotland Yard's Cocaine Connection," yang mengungkap kaitan kepolisian Inggris dengan jaringan pengedar obat bius.
Pada 1990, ia memusatkan perhatiannya pada pengungkapan skandal korupsi di kalangan Komite Olimpiade Internasional (IOC).
Saat ini Jennings telah berusia 71 tahun dan ia mengaku senang apabila investigasi yang dilakukannya membuahkan perubahan di dunia sepakbola. "Bila itu terjadi, saya bisa menghabiskan waktu tua dengan berkebun bersama anak-anak saya," ungkap Jennings yang tinggal di Ingrris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/andrews-jennings-jurnalis_20150605_145151.jpg)