Wakil Menteri Luar Negeri Israel Sebut Tanah Palestina Milik Yahudi

Tantangan yang akan dihadapi ketika ia mencoba membujuk dunia bahwa ia serius mengejar perdamaian dengan Palestina.

AP
Tzipi Hotovely 

TRIBUNSUMSEL.COM, YERUSALEM - Wakil Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Hotovely, baru pada Kamis menyampaikan pesan menantang kepada masyarakat internasional, mengatakan bahwa Israel tidak berhutang permintaan maaf untuk kebijakan di Tanah Suci Israel dan mengutip teks-teks keagamaan untuk mendukung keyakinannya bahwa tanah Palestina milik orang-orang Yahudi, Kamis (21/5/2015).

Dilansir Huffingtonpost, Tzipi Hotovely digambarkan sebagai sosok kalangan muda garis keras dalam pemerintahan baru Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan tantangan yang akan dihadapi ketika ia mencoba membujuk dunia bahwa ia serius mengejar perdamaian dengan Palestina.

Hotovely yang baru berusia 36 tahun ini, merupakan generasi muda garis keras di Partai Likud Netanyahu yang mendukung pembangunan pemukiman di Tepi Barat dan menentang menyerahkan tanah yang diambil ke Palestina. Sejak Netanyahu memiliki mayoritas satu kursi di parlemen, anggota parlemen ini bisa menyulitkan setiap upaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai.

Dalam pidato pelantikannya untuk diplomat Israel, Hotovely mengatakan Israel telah berusaha terlalu keras untuk menenangkan dunia dan harus berdiri untuk dirinya sendiri.

"Kita perlu kembali ke kebenaran dasar hak-hak kami untuk negara ini," katanya. "Tanah ini adalah milik kita. Semua itu adalah milik kita. Kami tidak datang ke sini untuk meminta maaf untuk itu."

Hotovely, seorang Yahudi Ortodoks, dalam pidatonya berkomentar bahwa dalam Alkitab Allah berjanji memberikan Tanah Israel kepada orang Yahudi. Berbicara dalam bahasa Inggris, ia mengisyaratkan bahwa ia akan mencoba untuk menggalang pengakuan global untuk permukiman Tepi Barat, yang secara luas menentang.

"Kami berharap masyarakat internasional mengakui hak Israel untuk membangun rumah bagi orang Yahudi di tanah air mereka," katanya.

Gadis cantik ini dilaporkan akan mengelola seluruh fungsi kementerian luar negeri Israel, tetapi Netanyahu akan tetap bertanggung jawab atas kebijakan luar negeri.

Selama kampanye pemilu baru-baru ini, Netanyahu marah kepada sekutu Barat-nya dengan mengatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan pembentukan negara Palestina.

Pada hari Rabu, dia mengatakan kepada kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengunjungi bahwa ia tetap berkomitmen untuk solusi dua-negara.

Juru bicara Netanyahu, Mark Regev, menolak berkomentar tentang pidato Hotovely, tapi mengatakan pernyataan Netanyahu Rabu lalu mencerminkan kebijakannya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved