Pengamat Bilang Semua Partai Dibenci Masyarakat

masyarakat justru dipusingkan terhadap kenaikan harga-harga kebutuhan hidup. Di lain pihak, tidak ada peningkatan pendapatan masyarakat.

Editor: Weni Wahyuny
TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY
Massa aksi dari aliansi BEM se Pekanbaru berunjuk rasa di depan gate Komplek Chevron, Pekanbaru, Jumat (27/3/2015). Dalam aksinya mahasiswa mendesak pemerintah agar menasionalisasi aset dan memberantas mafia migas. Selain itu massa juga menolak kenaikan harga BBM serta mengembalikan subsidi BBM dan mendesak agar harga bahan pokok diturunkan. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Pemerintah telah secara resmi mencabut subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Tak seperti biasanya, tidak ada penentangan sama sekali dari DPR.

Bahkan dari Koalisi Merah Putih (KMP) yang notabene berada di luar pemerintahan.

Pakar psikolog politik, Dewi Haroen, mengatakan kondisi semacam ini menyebabkan masyarakat semakin antipati terhadap partai politik. Tidak ada bedanya sama sekali.

"Semua partai dibenci masyarakat. Antara KMP dan KIH tidak ada bedanya. Kenaikan bahan pokok kenaikan BBM, semua di DPR anteng. Masyarakat merasa kok nggak ada gunanya ya," ujar Dewi saat diskusi bertajuk 'Penumpang Gelap di Tikungan' di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (11/4/2015).

Secara psikologis, kata Dewi, masyarakat justru dipusingkan terhadap kenaikan harga-harga kebutuhan hidup. Di lain pihak, tidak ada peningkatan pendapatan masyarakat.

Dewi sangat menyayangkan kondisi kekinian Indonesia mengingat Indonesia katanya dipimpin dari partai yang menyebut dirinya orang kecil atau wong cilik.

"Tidak ada yang memperjuangkan masyarakat. Hati-hati masyarakat secara psikologis sudah lelah dengan kemarin hingar bingar Pilpres yang lama sekali membuat berdarah-darah. Mereka butuh harga murah," ujar Dewi.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved