Semaraknya Acara Bakar Ogoh-ogoh di BKB
Tinggi kedua Ogoh-ogoh itu sekitar 4,5 meter. Ogoh-ogoh pertama menyerupai raksasa dengan kepala singa dan bewarna hijau, Kedua meyerupai siluman
Penulis: M Juniussava Saputra | Editor: Kharisma Tri Saputra
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, M Juniussava Saputra
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ogoh-ogoh, boneka yang terbuat dari kayu menyerupai makhluk-makhluk menyeramkan atau yang sering disebut buthakala, menjadi tradisi yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap menyembut hari raya nyepi, tepatnya pada saat upacara Macaru atau Taur Kasangan, Jum'at(20/3).
Pada saat dikunjungi Tribunsumsel.com, terlihat 2 ogoh-ogoh yang akan diarak di sepanjang pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), namanya celuluk dan rangda.
Tinggi kedua Ogoh-ogoh itu sekitar 4,5 meter. Ogoh-ogoh pertama menyerupai raksasa dengan kepala singa dan bewarna hijau, Kedua meyerupai siluman dengan gigi taring yang sangat panjang dan bewarna hitam, putih dan merah, serta memiliki kuku kaki dan tangan yang sangat panjang.
Pemuka Agama Hindu, Made Toya, S. Pd mengungkapkan, sebenarnya mengarak ogoh-ogoh tidak aturannya secara tertulis di dalam lontar, tapi ini merupakan kreasi yang lebih ditujukan agar hari raya nyepi semakin semarak. Nama ogoh-ogoh sendiri diambil dari cara mengaraknya yang digoyang-goyangkan.
"Cara mengaraknya pun berbeda-beda sesuai kreasi masing-masing tidak ada aturan yang baku," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/di-pelataran-bkb-tampak-ogoh-ogoh-sedang-diarak-2015.jpg)