Sejarah Migas Indonesia Ternyata Bermula Dari Sriwijaya

Namun ternyata, dalam catatan A.J Ziijker orang Portugis di Museum Migas menjelaskan jika abad ke-7 kerajaan Sriwijaya di Palembang telah mengerti

Sejarah Migas Indonesia Ternyata Bermula Dari Sriwijaya
SRIPOKU.COM/CANDRA OKTA DELLA
Peserta workshop Pertamina saat mendengarkan penjelasan Budi Setiawan Kabag Peragaan Museum Migas di Taman Mini Indonesia Indah, Kamis (5/2/2015) 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Proses ekplorasi, ekploitasi dan produksi sumber daya alam Minyak dan Gas (Migas) mungkin banyak yang mengira hanya ada pada era modern dengan segala teknologi maju seperti saat ini.

Dan banyak yang beranggapan sejarah perminyakan di Indonesia dimulai saat Belanda menjajah tanah air ini yang melakukan pencairan Migas untuk bahan bakar kapalnya.

Namun ternyata, dalam catatan A.J Ziijker orang Portugis di Museum Migas menjelaskan jika abad ke-7 kerajaan Sriwijaya di Palembang telah mengerti cara pengolahan minyak tersebut untuk digunakan dalam kehiduoan sehari-hari.

"Jadi saat itu, minyak digunakan untuk obat kulit dan rematik, dan minyak tersebut telah dikirim ke kaisar Cina di Kota Langit Biru," ungkap Budi Setiawan Kepala Bagian Peragaan Museum Migas, Kamis (5/2/2015)

Diceritakanya, barulah setelah melalui sejarah yang panjang, Indonesia memukai melakukan ekplorasi Migas berdasarkan penemuan sumur minyak Telaga Tunggal-1 di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara tanggal 15 Juni 1885.

Sejak itu bumi Indonesia kemudian di gali dan dilakukan ekplorasi untuk mencari sumber-sumber Migas yersebut. "Jadi kerajaan Sriwijaya pada masanya telah maju dalam pencarian sumber energi utama didunia tersebut," kata Budi.

Saat ini, berdasarkan data Pertamina tahun 2002, di Indonesia terdapat 60 cekungan sendimen yang merupakan sumber Migas. Yang mana sebanyak 38 telah dilakukan ekplorasi, dan 22 cejungan masih perawan dan belum di ekplorasi karena berada dilempengan yang cukup sukit untuk dilakukan karena ada di garis lempeng benua.

Dan cadangan Migas di Indonesia kian hari kian menipis akibat terus di ekploitasi dan di produksi, untuk itulah sekaran Pemerintah melakukan upaya peralihan pengunaan sumber energi dari Minyak ke gas yang dinilai lebih banyak dan sedikit berdampak dalam pembentukan co2. (Candra okta della)

Editor: Kharisma Tri Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved