Ada Komik Berjudul Mereka Bunuh Munir
Ia mengakui, sebagian besar isi komik tersebut menampilkan adegan-adegan brutal, yang mungkin akan dianggap sadis.
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Dua komikus asal Yogyakarta, Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa membuat komik yang membawa pesan tentang penyelesaian kasus-kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Komik ini diharapkan bisa menjadi media pengingat akan sejumlah kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Eko mengatakan, ia berharap komisi ini akan mengembalikan ingatan para pembaca pada kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Kisah Munir dimuatnya dalam sebuah komik berjudul "Mereka Bunuh Munir" setebal 158 halaman.
"Kami ingin melukiskan sosok, ide, dan gagasan Cak Munir. Banyak anak muda sudah lupa kepada Beliau," ujar Eko, di Kantor Kontras, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2014) malam.
Menurut Eko, dalam komik tersebut ia berusaha memberikan pemahaman mengenai fenomena sosial yang seolah seperti fiksi, namun kenyataannya benar-benar terjadi pada kasus pelanggaran HAM. Eko mengatakan, emosi pembaca komik akan diarahkan untuk masuk dalam kasus-kasus penyiksaan dan pembunuhan yang pernah terjadi sebelumnya.
Ia mengakui, sebagian besar isi komik tersebut menampilkan adegan-adegan brutal, yang mungkin akan dianggap sadis. Eko dan Terra pun beberapa kali mendapat penolakan kerja sama dari beberapa perusahaan penerbit. Meski demikian, kata Eko, penolakan tersebut tidak menghalangi ia dan rekannya untuk menciptakan sebuah komik tentang HAM.
"Kami ingin ada wadah emosional antara teks dan gambar, seperti mengajak pembaca untuk masuk dalam sebuah kasus pembunuhan," kata Eko.
Melalui komik ini, Eko juga berharap pembaca dapat membangun sebuah harapan bahwa kasus-kasus pelanggaran berat HAM perlu dituntaskan. Selain itu, kata dia, agar pembaca dapat mengambil nilai-nilai keberanian yang pernah dicontohkan oleh Munir.
Peneliti dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Indria Fernida mengatakan, dalam ruang politik yang sangat kaku, ada cara lain berkampanye yang lebih populer. Salah satunya adalah dengan komik. Melalui komik ini, menurut Indri, pembaca dapat menerima gambaran yang lebih sederhana mengenai laporan tim pencari fakta, yang bertugas menelusuri kasus-kasus HAM yang pernah terjadi.
Beberapa kasus yang diceritakan ulang melalui adegan dalam komik tersebut misalnya, mengenai konflik i Aceh, pembunuhan Munir, kasus penculikan mahasiswa pada tahun 1998, serta kasus-kasus lain yang melibatkan rezim pemerintahan.