Dokter Umum Sebagai Pintu Gerbang Diagnosa Gagal Jantung
Lalu dikelompokkan. Kelompok satu hangat dan kering, kelompok dua hangat dan basah, kelompok tiga dingin dan kering, dan terakir dingin dan basah.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pasien datang pertama kali kepada dokter umum. Entah apa keluhannya dan di mana tempatnya, dokter umum menjadi pintu gerbang di mana pasien mendapatkan diagnosa pertama.
Melihat permasalahan tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiofaskuler Indonesia (PERKI) menyelenggarakan workshop dengan tema "Acute Heart Failure" di RS Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan, Sabtu (27/9). Workshop ini mengajarkan kepada dokter umum, untuk bisa mendiagnosa dan melakukan terapi pada pasien gagal jantung yang dihadiri sekitar 120 peserta.
"Kami mengundang dokter umum dari Palembang dan kabupaten-kabupaten. Mereka bertugas di rumah sakit, puskesmas, dan ada juga dari dinas kesehatan," kata dr.Mangiring P.L Toruan SpJP, selaku ketua PERKI, ketika ditemui Tribun.
"Dokter umum diharapkan mampu melakukan diagnosis dengan benar dan menjalankan tata laksana fase awal. Karena pasien hidup dan mati di fase awal itu," kata dr.Edrian Zulkarnain SpJP, selaku pemateri dan ketua panitia.
Sedangkan populasi angka kejadian gagal jantung akut 3-4 dalam 1.000 penduduk per tahun.
Diagnosis didapat dari keluhan pasien yang merasa sesak napas, badan capek, kaki bengkak dan keringat dingin. Tata laksana pada fase awal, membuat pasien menjadi stabil. Misalnya capeknya dibuat berkurang dengan diberi obat untuk meningkatkan oksigen dalam darah.
Dalam waktu dua menit, diharapkan dokter umum membagi menjadi perfusi dan kongesti. Lalu dikelompokkan. Kelompok satu hangat dan kering, kelompok dua hangat dan basah, kelompok tiga dingin dan kering, dan terakir dingin dan basah.
"Paling mematikan adalah kelompok empat, diharapkan dokter umum mampu mengubah menjadi kelompok satu. Tentunya dengan pemberian obat yang tujuannya menguras air, menaikkan tekanan darah, memperkuat pompa jantung, dan melebarkan pembuluh darah," ujar dr.Mangiring yang menjadi pemateri pertama.
Kemudian, pasien dipantau keadaanya setiap dua jam sekali, lalu dievaluasi.
Pemateri lain dalam workshop ini yaitu dr Adrian SpJP dan dr.Dafsah Arifa Juzar SpJP dari RS Harapan Kita Jakarta. dr Ratih.
Seorang peserta dari RS Fadilah Prabumulih berkata, workshop tersebut bisa menambah ilmu. "Biasanya kami mendapat dari dokter penyakit dalam. Kali ini kami belajar langsung dari spesialis SpJP," ujarnya. (Maria Asrining Pinanti),