Petani Karet di PALI Menjerit Harga Karet Anjlok Hingga Rp 4 Ribu
Bagaikan jatuh tertimpa tangga itulah yang dirasakan oleh petani karet di musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah harga karet
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Ari Wibowo
TRIBUNSUMSEL.COM, PALI - Bagaikan jatuh tertimpa tangga itulah yang dirasakan oleh petani karet di musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah harga karet yang anjlok selama tiga tahun belakangan ini.
Kejayaan petani karet sepertinya berakhir di tahun 2010 lalu, pada tahun tersebut harga karet basah bisa mencapai Rp 15 ribu per kilogram.
Namun saat ini sepertinya kejayaan tersebut hanya menjadi kenangan tak petani karet, pasalnya saat ini harga karet basah anjlok hingga mencapai Rp 4 ribu per kilogram.
Ruswandi satu diantara ribuan petani karet yang berada di kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mengakui dirinya terus mengeluh harga karet yang anjlok ditambah musim kemarau yang berkepanjangan.
"Hampir tiga tahun harga karet terus anjlok, kami menjadi kebinggungan kenapa harga karet selama tiga tahun terus murah," ujar Ruswandi, Minggu (14/9/2014).
Dia menambahkan, ketika menjual karet kepada tengkulak sempat kaget pasalnya harga karet basah dihargai oleh tengkulak sebesar Rp 4 ribu, meski harga tersebut terbilang murah dirinya tetap menjual karet tersebut karena untuk keperluan sehari-hari.
Keluhan Ruswandi, tidak sampai diharga karet yang anjlok namun musim kemarau yang berkepanjangan membuat dirinya merasa terpukul sebagai petani karet, ia menganggap disaat ini menjadi bencana bagi para petani karet.