Petani Karet di Muba Harus Jadi Petani Modern
Beni meminta kepada tengkulak dan pabrik pengolahan karet agar tidak mempermainkan harga karet yang dijual petani.
TRIBUNSUMSEL.COM, SEKAYU - Menindaklanjuti mirisnya harga karet di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang dinilai sangat rendah hingga mencekik leher petani karet, langsung direspon dengan aksi oleh Wakil Bupati Muba Beni Hernedi. Ia langsung mendatangi PT Kirana Musi Persada yang bergerak di bidang pengolahan karet menjadi Standar Indonesia Rubber (SIR).
Dalam kunjungannya Beni meminta kepada tengkulak dan pabrik pengolahan karet agar tidak mempermainkan harga karet yang dijual petani.
“Jangan ada kesempatan dalam kesempitan soal harga karet ini. Jadi jangan ada permainan harga sehingga merugikan para petani karet,” ujar Beni saat dibincangi sela-sela kunjungannya ke PT Kirana Musi Persada yang bergerak dalam bidang pengolahan karet menjadi SIR (Standar Indonesian Rubber), Sekayu, (2/9/2014).
Menurut Beni, anjloknya harga karet saat ini terjadi di seluruh Indonesia, dimana kisaran harga mencapai Rp 5.500 hingga Rp 6.000 untuk setiap kilogramnya. Kondisi ini menyebabkan para petani karet mengalami kerugian yang cukup besar. “Jadi perlu dipikirkan bersama persoalan-persoalan dan pemerintah ke depan memikirkan untuk mengintervensi dan mensubsidi agar petani karet dapat menghasilkan karet yang baik sehingga dapat menjual hasil karetnya dengan harga tinggi,” beber dia.
Selain itu, Pemerintah Daerah (Pemda) akan memberikan sosialisasi kepada para petani untuk beralih melakukan penanaman karet dengan bibit unggul, sehingga hasil yang dicapai dapat memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Lantaran selama ini kualitas bokar (karet rakyat) dinilai sangat rendah dan kotor. “Kami (Pemda Muba) juga memberikan sosialisasi agar petani beralih ke karet dengan bibit unggul, kita juga memberikan penyuluhan agar petani melakukan pengolahan karet dengan menggunakan cara modern dan meninggalkan cara lama yakni menggunakan cuka parah,” terang dia.
Di samping itu pula, kata Beni, kelompok tani juga akan diarahkan untuk bermitra dengan pihak perusahaan, agar hasil produksi dapat langsung diserap pabrik tanpa harus melalui perantara atau pihak ketiga lagi, dengan catatan kualitas karet memenuhi standar pabrik. “Jika bermitra, petani juga akan mendapatkan keuntungan, dimana CSR perusahaan dapat disalurkan ke kelompok tani, dengan begitu biaya para petani dapat berkurang,” jelas dia.
Seraya menambahkan, saat ini tidak cukup lagi hanya dengan kata-kata prihatin terhadap harga karet yang jatuh, semua pihak yang terlibat harus secara langsung mengatasi persoalan tersebut.
Sementara itu, Direktur PT Kirana Musi Persada, Edi Sumarno mengatakan, akan selalu memberikan sosialisasi agar petani beralih ke karet unggul yang dari bibit unggul. Di Muba banyak menggunakan bibit yang kurang baik, jadi dari segi hasilnya tidak memenuhi. Sehingga ke depan perusahaan akan memberikan penyuluhan, supaya petani tidak lagi menggunakan cara lama, tetapi ke petani yang modern, memberi tahu, dari cara, menanam sampai memanen.
Sehingga diarahkan kelompok tani untuk menjadi mitra Perusahaan, agar harga yang didapat petani standar pabrik, Harga standar Pabrik Rp. 8000.
Di samping itu, perusahan juga mendapatkan keuntungan dari dana CSR untuk kelompok petani, jadi itu untuk mengurangi beban petani, kalau memang sudah menjadi mitra. (candra okta della)