Breaking News:

E-paspor, Biar Tidak Antre di Bagian Imigrasi

E-paspor Itu mempermudah pelayanan orang dalam pemberangkatan. Dia semacam e-toll pass.

TRIBUNSUMSEL.COM/BONAVENTURA YULIUS DIDIK SUMANTO
Suasana antrian masyarakat membuat paspor di kantor imigrasi. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Sejak tahun 2013, kantor Imigrasi telah melayani pembuatan paspor elektronik. Saat di bandara, pemegang paspor ini tidak perlu repot-repot mengantre di bagian imigrasi.

"E-paspor Itu mempermudah pelayanan orang dalam pemberangkatan. Dia semacam e-toll pass. Di negara tujuan yang telah menggunakan auto gate, maka dia tidak melalui petugas imigrasi," jelas Kepala Kantor Imigrasi Klas I Jakarta Barat, Bambang Satrio, Kamis (14/8/2014).

Bambang menjelaskan, di beberapa negara termasuk di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, telah menggunakan sistem auto gate. Maka, para pemilik e-paspor ini dapat langsung melalui auto gate untuk verifikasi tanpa harus mengantre dalam pemeriksaan paspor yang dilakukan petugas imigrasi. Sebab, jelasnya, pada e-paspor memiliki chip yang dapat dibaca oleh auto gate. "Dalam chip tersebut tersimpan data pemegang paspor," jelas Bambang.

E-paspor ini masih berbentuk buku layaknya paspor biasa. Dengan adanya paspor elektronik ini, kata Bambang, dapat menguntungkan sebab paspor tidak bisa dipalsukan. Dan bukan berarti paspor model lama ditarik.

Menurut dia, pemohon diberi kesempatan memilih, apakah hendak membuat paspor biasa atau e-paspor. Pilihan tersebut akan ditanyakan saat dilakukannya wawancara. Bila akan membuat paspor elektronik, nantinya petugas akan mengeluarkan bukti permohonan pembuatan e-paspor.

Bambang mengatakan, untuk pelayanan pembuatan paspor elektronik ini tidak berbeda dengan paspor biasa, yakni memakan waktu antara tiga sampai lima hari kerja. Sedangkan masalah biaya, untuk paspor elektronik memang terbilang lebih mahal. Bila untuk pembuatan paspor biasa menghabiskan biaya hanya sekitar 360.000, maka biaya pembuatan paspor elektronik sekitar 660.000.

"Kami mengakui untuk pelayanan paspor memang naik dibanding dulu hanya sekitar 200.000 dan untuk paspor elektronik memang lebih mahal," katanya.

Pelayanan elektronik paspor berbeda dengan pelayanan pembuatan paspor sistem online. Bambang menjelaskan, sistem online dalam pembuatan paspor ada pada tahap pendaftaran, yakni untuk memudahkan mengisi data pribadi. Pendaftaran dapat dengan mengisi di laman Ditjen Imigrasi Indonesia, www.imigrasi.go.id

"Jadi nanti pemohon datang ke kantor imigrasi hanya tinggal verifikasi data," ujar Bambang.

Setelah mengisi data pribadi pada laman web, Bambang berujar, pemohon dapat mendatangi kantor imigrasi manapun, tidak harus sesuai dengan daerah asalnya tinggal. "Sekarang sistemnya sudah bisa membuat paspor tidak sesuai dengan wilayah di tempat dia tinggal," ujarnya.

Dengan sistem ini pula, lanjut dia, pemohon paspor hanya dua kali mendatangi kantor imigrasi, pertama yaitu pada saat verifikasi data dan selanjutnya pengambilan paspor yang telah diterbitkan. Pada kedatangan pemohon melakukan verivikasi data, kata Bambang, dia akan dilayani dengan cara one stop service (OSS) yakni pelayanan satu meja. Menurut dia, pelayanan ini memudahkan lantaran memangkas tahapan pelayanan yang berbelit-belit.

"Dengan OSS ini bila dahulu rangkaian buat pasport bisa 12 tahapan, ini bisa dilayani oleh satu petugas saja," jelasnya.

Pemohon, akan melakukan penerimaan verifikasi data, wawancara hingga foto pada satu petugas. Adapun pelayanan ini mulai berlaku sejak 27 Januari 2014.

Tags
E-PASPOR
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved