Pelatih Uruguay Mundur

Menurut mereka, sanksi itu tak hanya membahayakan karier, tetapi lebih dari itu kehidupan pribadi Suarez.

TRIBUNSUMSEL.COM - Pelatih Oscar Tabarez, akan mengajukan pengunduran diri dari posisi pelatih tim nasional Uruguay dalam beberapa hari ini. Menurut Tabarez, hal itu merupakan bentuk keberatannya terhadap sanksi berat yang dijatuhkan FIFA kepada anak didiknya, Luis Suarez.

"Tidak bijaksana atau tidak seharusnya (saya) berada dalam organisasi berisi orang-orang, yang mempromosikan keputusan ini dan mereka yang memberikan hukuman tersebut, yang membuat prosedur dan nilai-nilai yang berbeda dari yang saya miliki," ujar Tabarez.

"Oleh karena itu, dalam beberapa hari mendatang, saya akan mengajukan surat pengunduran diri dari posisi itu (pelatih tim nasional Uruguay) secara resmi," lanjutnya.

FIFA menjatuhkan sanksi kepada Suarez pada Kamis (26/6/2014). Sanksi itu berupa skors sembilan pertandingan internasional, larangan terlibat dalam kegiatan sepak bola selama empat bulan, larangan masuk stadion selama empat bulan, dan denda sebesar 100.000 franc Swiss (sekitar Rp 1,4 miliar).

Suarez menerima hukuman itu karena menggigit bek Italia, Giorgio Chiellini, pada menit ke-79 laga terakhir Grup D Piala Dunia di Estadio Das Dunas, Natal, Selasa (24/6/2014).

Sejumlah kalangan yang setuju Suarez dihukum, termasuk Chiellini, menilai sanksi itu terlalu berat. Menurut mereka, sanksi itu tak hanya membahayakan karier, tetapi lebih dari itu kehidupan pribadi Suarez.

"Kita melihat gambar insiden penggigitan itu setelahnya dan melihat ada kemungkinan tertentu mengenai hukuman kepada orang yang terlibat dalam insiden itu, baik Chiellini maupun Suarez. Saya tak membantah kami menantikan hukuman, tetapi tak mengira tingkat hukuman itu sangat berat," ujar Tabarez.

"Sebelum dan sesudah insiden Suarez dan Chiellini, kami melihat segalanya diukut dengan acuan yang berbeda. Keputusan ini lebih difokuskan kepada opini media, media memberikan tekanan begitu pertandingan selesai. Pada konferensi pers, itu adalah satu-satunya topik yang dibicarakan jurnalis. Saya tak tahu kewarganegaraan mereka tetapi mereka semua bicara dengan bahasa Inggris."

"Sebagai seorang pelatih dan profesor, saya juga bekerja sebagai guru, saya disuguhkan teori kambing hitam. Kami setuju mengenai dasar hukuman, itu pasti. Namun, ada bahaya dalam pengambilan keputusan seperti ini. Sering kali, Anda cenderung melupakan bahwa kambing hitam adalah orang yang punya hak."

"Dengan keputusan ini, siapa yang menang atau siapa yang yang dimenangkan? Siapa yang kalah? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dihancurkan? Siapa yang mencapai sesuatu sesuai harapannya?" tutur Tabarez.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke, mengatakan bahwa hukuman untuk Suarez menjadi sangat berat karena ini bukan pertama kalinya ia menggigit pemain lawan. Pada 2010, sebagai pemain Ajax, Suarez menggigit pemain PSV Eindhoven, Otman Bakkal. Pada 2013, sebagai pemain Liverpool, Suarez menggigit bek Chelsea, Branislav Ivanovic.

Untuk tindakan menggigit Bakkal, Suarez diskors tujuh pertandingan, sementara untuk tindakan menggigit Ivanovic, Suarez diskors sepuluh pertandingan.

"Menurut saya, (Suarez) harus menemukan cara untuk berhenti melakukan hal ini. Menurut saya, ia harus menjalani perawatan khusus karena hal ini jelas salah," ujar Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke.

"Ini bukan yang pertama. Jika ini adalah kejadian pertama, ini adalah kecelakaan. Jika lebih dari satu kali, ini bukan hanya kecelakaan, dan itulah kenapa hukumannya harus menjadi peringatan," tambah Valcke.

Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved