Sejarah Pelabuhan 35 Ilir

Pelabuhan 35 Ilir ini beroperasi pertama kali tahun 1980, waktu itu pasangan pelabuhan ini yakni pelabuhan Kayu Arang di Bangka.

Penulis: Dede Febryansyah |
zoom-inlihat foto Sejarah Pelabuhan 35 Ilir
SRIPO/ZAINI
Pelabuhan 35 Ilir palembang

TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG – Seiring akan diresmikannya pelabuhan penyeberangan di kawasan Tanjung Api-api (TAA) tentu adanya rencana akan ditutupnya pelabuhan 35 Ilir semakin menguat. Walau begitu cerita sejarah berdirinya pelabuhan 35 ilir hingga seperti sekarang patut tidak dilupakan.

Pelabuhan 35 Ilir ini beroperasi pertama kali tahun 1980, waktu itu pasangan pelabuhan ini yakni pelabuhan Kayu Arang di Bangka. Namun karena sungai di Kayu Arang berukuran kecil dan tergantung dengan pasang surut air sungai, akhirnya pasangan pelabuhan 35 ilir di pindahkan ke pelabuhan Mentok.

Dan akhirnya di bangunlah pelabuhan Tanjung Kalian yang akhirnya hingga sekarang pasangan pelabuhan 35 ilir ini berpasangan dengan pelabuhan Tanjung Kalian, ujar Kabid Hubla dan ASDP Pelabuhan 35 Ilir, Syarfuddin SE, MM, kepada Tribunsumsel.com,Kamis (28/11).

“Waktu itu pelabuhan ini di bangun oleh Kementrian Perhubungan. Setelah itu perbaikan demi perbaikan terus dilakukan walaupun waktu itu pasangan pelabuhan ini selalu berubah-ubah. Dan terakhir tahun 2000an pelabuhan ini di renovasi ulang dan dipasangkan dengan pelabuhan Tanjung Kalian, dan diresmikan pada tahun 2005 oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla”, ujarnya.

“Namun karena otonomi daerah pada tahun 2001 akhirnya pada tanggal 23 Maret 2011 pelabuhan ini diserahkah oleh pemerintah pusat kepada pemerintah kota, jadi operasional dan perawatannya sudah diserahkan kepada pemerintah kota”, lanjut Syarfuddin.

“Pelabuhan ini sendiri dulunya hanya memiliki satu gedung, yang sekarang sudah menjadi ruangan Kepala Pelabuhan 35 Ilir. Dulunya, lanjut Syarfuddin, daerah sini masih daerah persawahan dan banyak kebun pisang”, ujarnya.

Adanya rencana penutupan pelabuhan 35 Ilir ini tentu saja akan banyak yang merasa kecewa khususnya masyarakat sekitar pelabuhan. Jumairah, salah seorang pedagang yang berjualan di area pelabuhan mengatakan “saya sih tidak tahu jika pelabuhan ini akan ditutup”, ujarnya.

“Tapi, lanjutnya, kalau seandainya jadi di tutup yah terpaksa saya mencari lokasi lain untuk berjualan. Sebenarnya sangat disayangkan juga kalo ditutup, karena kan orang sini kalau mau berangkat ke Bangka pastinya ke pelabuhan ini. Jadi kalau ditutup pastinya akan semakin jauh mereka mau ke pelabuhan di Bom Baru”, ujarnya kecewa.

“Lain lagi yang di utarakan Er, staf Dinas Perhubungan yang bertugas di pelabuhan 35 Ilir. Menurutnya jika pelabuhan ini jadi di tutup, yah kita hanya bisa diam saja. Ini kan sudah keputusan pemerintah. Soal kerjaan, lanjutnya, kita hanya menuruti atasan saja. Jika disuruh ke sana yah kita ke sana”, ujarnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved