Breaking News:

Perusahaan Tambang Rambah Bukit Serelo

Perusahaan Tambang Rambah Bukit Serelo

Penulis: Ilham Yafiz | Editor: Ashari
Perusahaan Tambang Rambah Bukit Serelo - tambang_di_lahat4.jpg
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Bukit Serelo
LAHAT, TRIBUN - Eksistensi Bukit Serelo sebagai ikon pariwisata Kabupaten Lahat terancam hilang. Perusahaan tambang batubara sedang mengincar emas hitam yang tersimpang di bukit itu karena diketahui memiliki kualitas kelas dunia bernilai ekonomi tinggi.
Tribun Sumsel melakukan investigasi akhir pekan lalu mendapati aktivitas penambangan batubara sudah melewati kaki bukit yang juga dinamai Bukit Jempol ini. Di sisi timur, jalur yang dilewati Tribun naik ke bukit, terpantau ada lima lokasi tambang yang masing-masing lahan luasnya lebih dari 600 hektare.
Sebagian besar perusahaan tambang di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel melakukan usaha menambang atau produksi di kawasan bukit. Kawasan di perbukitan ini dinilai memiliki potensi batubara berkalori tinggi, hingga mencapai 7.000 kilo kalori (kcal) per kilogram. Satu perusahaan tambang batubara di Lahat mengakui, batubara dengan kadar kalori 7.000 kcal/kg biasa disebut sebagai batubara prima, merupakan komoditas unggulan yang biasa diinginkan pasar internasional.
"Potensi terbesar batubara kualitas terbaik itu sebenarnya berada di Bukit Serelo, di sana kalorinya bisa mencapai tujuh ribu. Batubara seperti ini merupakan komoditas ekspor yang diinginkan pasar internasional. Kalau yg dipinggir-pinggir ini hanya berkisar 6.300 kalori," kata Kepala Teknik Tambang PT Bumi Merapi Energi (BME) di Lahat.
Dia mengatakan, kualitas batubara kelas dunia di Bukit di kawasan bukit yang juga biasa disebut sebagai bukit tunjuk ini disebabkan panas yang berada di dalam perut bumi yang "memasak" batubara dengan suhu optimal dan siap untuk ditambang.
Alasan ini lah yang menyebabkan sejumlah perusahaan memilih lokasi bukit Serelo sebagai kawasan eksploitasi produksi.
"Kalau kita lihat kebanyakan lokasi tambang perusahaan lebih banyak berada di sisi yang berdekatan dengan bukit. Itu karena kualitasnya bagus di sana. Kalau yang lebih bagus lagi ya di dalam bukit itu," tuturnya.
Seorang karyawan operasional kontraktor batubara di Lahat mengatakan, kualitas batubara yang mendekati Bukit Serelo sangat bagus. Panas bukit membuat batubara menjadi lebih matang sehingga kalori yang dikandung menjadi lebih tinggi.
Tak heran kalau saat ini area sekitar Bukit Serelo, yang selama ini dijadikan perkebunan karet dan sawah, mulai bergeser peruntukkannya sejak tiga tahun terakhir. Penelusuran ke bukit yang puncaknya menyerupai jempol ini pada, Kamis (13/9). Baru berjalan 800 meter dari jalan lintas Palembang-Lahat, telah terlihat ke luar masuk truk di area pertambangan.
Dalam perjalanan itu Tribun ditemani dua orang pemandu dari desa setempat. Dijelaskan, jalan yang dilalui menghubungkan beberapa desa di sekitar Bukit Serelo. Jalan berliku dan menanjak membuat pengguna kendaraan harus meningkatkan kewaspadaan.
Warga sangat terbantu dengan adanya jalan ini sebagai rute anak pergi sekolah ke kota dan mengangkut hasil panen kebun dan sawah. Jalan itu rusak sejak dimulainya penambangan batubara di sekitar bukit. Beberapa bagian aspal mengelupas dan berlubang. Selain itu, debu-debu beterbangan membuat pengelihatan dan pernapasan terganggu.
Dari jalan ini sangat mudah melihat aktivitas penambangan batubara. Lokasinya berada di kanan dan kiri jalan.
"Dulu warga sempat marah dan melarang truk batubara melewati jalan desa. Mereka kemudian membuat jalan sendiri, namun masih ada saja truk yang melintas di jalan desa," jelas seorang pemandu.
Sesampainya di badan bukit, Tribun melanjutkan pendakian. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai puncak bukit. Dari sana, terlihat jelas di sekitar badan dan kaki bukit yang dahulunya hijau berubah warna menjadi coklat dan kuning.
Warna itu menunjukkan area perkebunan telah dibabat untuk penambangan batubara. Lokasi tambang mengelilingi bukit, ada yang berdekatan Sungai Lematang dan sebagian lagi dekat pemukiman penduduk Desa Ulak Pandan, Desa Negeri Agung, dan Desa Lebak Budi.
"Seperti inilah keadaan desa kami sekarang. Dahulu hanya terlihat hijau dari atas bukit. Tetapi sekarang telah berubah, banyak kegiatan tambang di sini," tutur pemandu itu.
Pengusaha tambang membeli kebun warga dengan harga yang mahal. Satu hektare bernilai Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Selain iming-iming harga, pengusaha memberikan kesempatan bekerja kepada keluarga pemilik tanah.
"Mereka akan ditempatkan sesuai bagian kerja mereka. Kebanyakan orang desa tidak memiliki kemampuan, jadi hanya bekerja sebagai petugas keamanan, penutup terpal truk, dan mengatur lalulintas kendaraan," jelasnya.
Pakar Tambang Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof Dr Ir H M Taufik Toha DEA, menjelaskan, pengaruh batuan beku (intrusi) disertai tekanan dan temperatur tinggi di perbukitan bisa meningkatkan kadar batubara hingga 2.000 kcal/kg, seperti di Bukit Serelo, Lahat dan Bukit Asam, Tanjung Enim.
Intrusi menyebabkan gas terbang (volatile matter) berkurang, kadar air dalam batubara berkurang, dan karbon meningkat. "Tetapi tidak semua bukit memiliki tekanan dan temperatur yang tinggi. Seperti di Musi Banyuasin itu ada juga ada bukit, tetapi hanya berupa patahan. Makanya kadar batubara di sana tetap rendah. Oleh sebab itu tidak ada pengatuh intrusinya," ucap Taufik yang menjabat Dekan Teknik Unsri, Minggu (16/9).
Disebutkan, ada perbedaan kadar batubara di Lahat dan Tanjung Enim dibandingkan di Muba. Untuk di Lahat berkadar 6.000-6.500 kcal/kg, di Tanjung Enim berkadar 6.500-7.500 kcal/kg, dan di Muba hanya berkadar 4.500-5.500 kcal/kg.
Hutan Lindung
Kawasan di sekitar kaki Bukit Serelo dikepung pertambangan batubara milik sejumlah perusahaan tambang. Keberadaan kawasan eksploitasi batubara di daerah ini terlihat sangat masif. Cekungan bekas galian tambang menanga melebihi luas lapangan sepakbola.
Di sekitar kaki dan punggung bukit sudah disulap menjadi kawasan pertambangan. Lalulalang kendaraan operasional dan alat berat milik perusahaan tambang melintasi jalanan umum akses satu-satunya menuju delapan desa di Kecamatan Merapi Timur yang berada di seberang Bukit.
Terdapat dua akses menuju kawasan pertambangan ini. Pertama, merupakan jalanan umum yang biasa digunakan warga Kecamatan Merapi Timur keluar masuk dari dan menuju kota Lahat. Akses kedua merupakan jalanan perusahaan menuju wilayah tambang batubara.
Kedua jalanan ini posisinya berdampingan dan saling bertemu di satu titik yang berada di perlintasan rel kereta api, sebelum kemudian terpisah kembali. Kendaraan truk pengangkut batubara sering menggunakan jalanan umum yang diaspal dibandingkan jalan khusus angkutan batubara yang tidak diaspal.
Khusus jalan tempat lalulalang truk, di depan dijaga oleh petugas. Setiap kendaraan yang keluar masuk terlihat melapor kepada petugas. Tribun sempat mencoba masuk menyusuri jalur ini. Kondisinya tidak layak dilalui kendaraan pribadi roda empat biasa. Jalan ini sepertinya memang diperuntukkan bagi Kendaraan berpenggerak empat roda. Jalan ini hanya berupa tanah pengerasan dan batu kerikil.
Kawasan Bukit Serelo merupakan kawasan hutan lindung yang menjadi satu objek wisata alam Kabupaten Lahat. Bukit yang dikenal masyarakat dengan sebutan jempol ini kerap dijadikan lokasi camping para pecinta alam dan mahasiswa.
Ancam Cabut Izin
Kepala Bidang Pertambangan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Lahat, H Kosasih, Kamis (13/9), mengatakan, pernah ada perusahaan yang ingin mengeskploitasi kawasan lindung tersebut, tetapi tidak jadi.
"Dulu pernah kawasan lindung di bukit Serelo hampir dieksploitasi, begitu kita ketahui bahwa kawasan itu merupakan kawasan lindung, maka Izin Usaha Pertambangan perusahaan kami alihkan, tetapi perusahaan memilih untuk menciutkannya saja tidak memilih opsi pemindahan kawasan yang kami tawarkan. Sekarang di sana (Bukit Serelo, red) tidak ada IUP penambangan lagi," jelasnya.
Di Kabupaten Lahat saat ini terdapat 49 IUP perusahaan tambang batubara. Dari jumlah itu, 25 perusahaan mengantongi IUP eksplorasi, dan 24 sisanya memiliki IUP Operasi Produksi. Sementara itu, dari 24 perusahaan yang telah mengantongi IUP produksi, baru 10 Perusahaan yang telah nelakukan kegiatan penambangan di lokasi tambang.
IUP produksi terluas di Kabupaten ini mencapai dua ribu hektar. Sementara luasan IUP tersempit, 200 hektar.
"Perusahaan pemegang IUP produksi yang belum melakukan penambangan umumnya masih melakukan persiapan infrastruktur pelaksanaan tambang, seperti akses jalan masuk ke lokasi," tuturnya.
Perusahaan yang ingin mendapatkan IUP eksplorasi ke IUP produksi harus memenuhi sejumlah persyaratan. Persyaratan itu antara lain amdal tambang, rencana program reklamasi pascatambang dan rencana penutupan tambang. Selain itu perusahaan juga harus membayar deposit biaya reklamasi.
Jumlah dana reklamasi yang harus dibayar ini dilakukan dengan melakukan perhitungan teknis dengan memasukkan perbandingan luas total areal tambang dan kontur lahan pertambangan.
Uang reklamasi ini akan dikembalikan kepada perusahaan setelah selesai produksi, dengan catatan perusahaan telah melakukan program reklamasi pasca tambang sesuai rencana yang telah disusun sebelum pengurusan IUP. Jika perusahaan tidak melakukan program reklamasi, maka dana yang dipegang pemerintah daerah ini akan digunakan sebagai biaya reklamasi, dan perusahaan akan mendapat sanksi hingga pencabutan IUP.
Khusus untuk biaya reklamasi ini juga harus disetorkan oleh perusahaan yang memegang IUP eksplorasi.
"Sejauh ini seluruh perusahaan pemegang IUP belum ada yang melanggar aturan ini. Kita memiliki pengawas bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Lahat. Pengawasan dan evaluasi dilakukan rutin setiap tahun," terangnya.
Menurut dia, sejak tahun 2010 lalu Pemkab Lahat tidak lagi mengeluarkan IUP tambang batubara. pemkab masih menunggu petunjuk teknis Undang-undang Mineral dan batubara (Minerba) nomor 4 tahun 2009 pasca keputusan Mahkamah Konstitusi terkait pencabutan klausul batas minimum luasan tambang.
"Kami masih menunggu Juklak dan Juknis UU Minerba yang baru. Kalau isinya mencabut batas minimum luasan tambang (di atas 5.000 hektare), kami juga khawatir penambangan akan semakin masif, tetapi kita belum mengetahui hal itu," tuturnya. (wan/iam)
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved