Kanal

Herman 3 Tahun Lumpuh Akibat Jatuh dari Pohon Petai, Kini Sang Istri Cari Nafkah Jadi Buruh Karet

Kadinkes PALI, dr H Muzakir saat melihat kondisi Herman Yanto. - Tribun Sumsel/ Ari Wibowo

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Ariwibowo

TRIBUNSUMSEL.COM,PALI-Hermanyanto (38) warga Karang Anyar Kelurahan Pasar Bhayangkara Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kondisinya saat ini hanya bisa tengkurap.

Ia mengalami kelumpuhan, bagian tulang bawah pinggangnya luka membusuk akibat jatuh dari atas pohon petai.

Kelumpuhan yang dialami Herman Yanto telah berlangsung lebih dari tiga tahun, dan meski telah diobati dengan berbagai cara, tetapi sakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh.

Baca: Ratusan Warga di Lahat Beri Waktu 5 Hari Bagi Perusahaan Batubara PT BAU Beroperasi di Lahan Adat

Baca: Produk UKM Sumsel Mulai Dikenal, Ini Saran Konsulat Jenderal Indonesia Supaya Tembus Pasar Global

Baca: JM Group Mulai Lirik E-Commerce, Belanja Pakai Aplikasi JM Shopping Gratis Ongkos Kirim

"Sudah lebih dari tiga tahun, saat itu aku jatuh dengan posisi duduk di atas ketinggian lebih kurang 15 meter. Saat kejadian, aku sendirian memanjat pohon tanpa mengajak teman, sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya."

"Ketika jatuh, badan aku tidak dapat lagi digerakan, membuat aku bertahan semalaman di lokasi kejadian sampai pagi harinya istri aku menemukan aku," cerita Herman Yanto, Kamis (6/9/2018).

Sejak kejadian itu, dirinya mengaku telah berobat ke rumah sakit dan bantuan pemerintah Kabupaten PALI sering dia dapatkan. Tetapi saat pulang dari rumah sakit dan diarahkan dokter untuk kontrol dan berobat jalan, dirinya kesulitan karena kondisinya lumpuh.

Baca: Nilai Tukar Dolar Terhadap Rupiah Capai Rp 15.000, Petani Kopi di Sumsel Diuntungkan

Baca: Erick Thohir Ketua Tim Jokowi, Ketua DPP PKS Tanggapi Keren

"Menuju rumah sakit memang tidak begitu jauh, tetapi karena kondisi lumpuh dan akses rumah kami hanya bisa dilalui sepeda motor, jadi aku hanya diam di rumah karena tidak mau merepotkan orang lain apabila harus berobat jalan," kata Herman Yanto.

Selama Hermanyanto sakit, tulang punggung keluarganya diambil alih sang istri, yang hanya menjadi buruh nyadap karet untuk menghidupi keluarga dan tiga orang anaknya.

"Tidak ada pilihan lain, aku harus menghidupi keluarga dengan menyadap karet. Sepulang menyadap aku rawat suami aku dan memberikan obat seadanya, sebab kalau dirawat lama di rumah sakit, selain harus ditunggu yang tentunya butuh biaya juga aku tidak bisa mencarikan nafkah," ujar Ema (33) istri Hermanyanto saat ditanyai media ini.

Baca: Beda dengan Terdahulu, Lambang 212 di Dada Vino G Bastian Tertutup Baju, Ini Alasan Dibaliknya

Baca: Sumsel Ganti Gubernur Bagaimana dengan Nasib Sriwijaya FC? Ini Penjelasan Komisaris Utama PT SOM

Sementara itu, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PALI dr H Muzakir yang ikut melihat kondisi Herman Yanto mengatakan bahwa apabila pasien dan keluarga pasien mau dirawat di rumah sakit, seluruh biaya perobatan ditanggung pemerintah.

Hanya saja, kendala yang membuat keluarga keberatan adalah saat menunggu pasien. Akan tetapi dr Muzakir, pihaknya telah menyiapkan rumah singgah bagi keluarga pasien, baik itu di Kabupaten PALI sendiri maupun di kota Palembang, Prabumulih dan Muara Enim yang lokasinya dekat dengan rumah sakit.

"Pemerintah biayanya pengobatan pasien ini. Tetapi dari hasil diagnosa, untuk luka di bagian punggung dan kaki pasien bisa disembuhkan. Namun, perlu perawatan intensif. Untuk lumpuhnya, tipis harapan untuk sembuh kembali," kata dr Muzakir.

Penulis: Ari Wibowo
Editor: Wawan Perdana

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer