Kanal

Mutu Pembelajaran di Ruang-ruang Kelas Kita

Salah satu aktivitas belajar mengajar di kelas (ilustrasi) - TRIBUNSUMSEL.COM

SEKEDAR tahu tanpa memahami makna suatu ilmu secara mendalam adalah inti masalah pembelajaran di ruang-ruang kelas kita. Jika hanya tahu tanpa paham suatu ilmu, kemungkinan besar tak akan terjadi perubahan perilaku.

Padahal, perubahan—pengetahuan, sikap, keterampilan—yang relatif permanen adalah tolak ukur keberhasilan belajar. Jika belajar tak mampu menghasilkan perubahan pada diri anak-anak, kualitas proses belajar dan pembelajaran di ruang kelas patut dipertanyakan.

Pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh faktor kualitas rencana pembelajaran, dialog dan kolaborasi, serta pemahaman guru tentang tingkat kognisi dan emosi anak (Sato, 2014). Kecenderungan umum yang terjadi di lapangan, sebagian besar guru memahami rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hanya sebagai dokumen administrasi an sich.

Apa yang tertuang di RPP tak mencerminkan kondisi nyata pembelajaran di kelas. Yang lebih memilukan, dominasi guru saat mengajar tak memberikan kesempatan terjadinya dialog dan kolaborasi di antara sesama anak. Akhirnya, anak terposisi pasif dan hanya menjadi objek pembelajaran. Guru mengajar sesuai kehendaknya, namun kerap tak sesuai dengan kebutuhan belajar anak.

Tahu tanpa paham ilmu secara mendalam adalah hasil dari belajar pasif. Hal ini terjadi karena paradigma keliru tentang proses belajar anak. Asumsinya, anak tidak tahu apa-apa, jadi harus diberi tahu.

Karena guru merasa memiliki semua informasi yang dibutuhkan anak, guru menceritakan semua informasi pada anak. Guru jadi satu-satunya sumber belajar. Anak-anak tak menikmati proses belajar karena hanya jadi objek pembelajaran. Mereka terpaksa belajar demi menyenangkan orang tua, guru, atau sekolah.

Interaksi Positif dan Produktif

Proses belajar yang baik mensyaratkan adanya pelibatan pengalaman dan interaksi yang positif dan produktif sesuai konteks kebutuhan belajar anak. Hasil belajar bergantung pada proses belajarnya. Jika proses belajarnya baik, hasil belajar anak pun akan baik. Sebaliknya, proses belajar yang buruk akan menghasilkan hasil belajar yang buruk pula pada diri anak. Pembelajaran mestinya jadi upaya sadar yang dirancang guru untuk memfasilitasi pengalaman belajar anak.

Belajar adalah hasil dari menyimpulkan dan menarik hubungan atas berbagai informasi yang disajikan. Proses belajar mestinya bukan berorientasi pada seberapa banyak informasi yang bisa didapatkan, namun berfokus pada kemampuan menganalisis, mensintesis, dan menghubungkan antar informasi yang akan menghasilkan pemahaman.

Mengancik pada konsep faktor penentu mutu pembelajaran yang disajikan Sato (2014) di atas, ada beberapa hal yang bisa diikhtiarkan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang-ruang kelas. Pertama, RPP dirancang dengan paradigma untuk memfasilitasi pengalaman belajar bagi anak. Isi RPP memuat sistematika aktivitas belajar anak yang rinci dan spesifik dengan mempertimbangkan latar belakang dan kemampuan belajar anak yang beragam.

Halaman
123
Editor: Lisma

Fenomena Air Terjun Sedudo Nganjuk Berubah jadi Hitam Pekat, Pengunjung Dilarang Mandi

Berita Populer