Ceramah Ustadz Abdul Somad

Ceramah Ustadz Abdul Somad: Akhlak Puncak Ilmu Pengetahuan

siapa pun kita, apa pun mata kuliah yang diajarkan, lulusan dari fakultas mana pun, maka kita harus berakhlak

Ceramah Ustadz Abdul Somad: Akhlak Puncak Ilmu Pengetahuan
tribuntimur.com
Ustadz Abdul Somad saat berceramah di salah satu daerah di Indonesia 

Ceramah Ustadz Abdul Somad: Akhlak Puncak Ilmu Pengetahuan

TRIBUNSUMSEL.COM - Ada sebuah masjid. Di samping masjid itu banyak kos-kosan. Banyak juga guru besar (profesor) yang tinggal di sekitar masjid itu. Ini kisah nyata. Lalu, seorang mahasiswa bertanya kepada salah seorang profesor, 'Prof, kenapa gak pernah ketemu di masjid?' Kata sang profesor, 'Yang ke masjid itu hanya S1 aja'." kata Ustadz Abdul Somad mengawali ceramahnya di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, 22 Maret 2018 lalu.

"Jadi rupanya (seolah-olah, Red), kalau sudah profesor tak perlu lagi ke masjid. Karena menulis makalah untuk seminar, lokakarya lebih banyak pahalanya daripada salat berjamaah. Dan itu tidak terjadi di Universitas Brawijaya. Sebab pengurus masjid di sini banyak yang profesor," sambung Ustadz Abdul Somad yang juga dikenal dengan sebutan UAS.

Ulama asal Provinsi Riau ini memang sengaja diundang ke Universitas Brawijaya untuk menyampaikan tausyiah dengan tema "Tanggung Jawab Cendekiawan Terhadap Pembentukan dan Pembangunan Akhlak". Tausiyah UAS direkam dan dipublikasikan tim Tafaqquh Video pada 31 Maret 2018.

Menurut UAS, selama ini, urusan membentuk akhlak biasanya diserahkan kepada ustadz dan kiai. Sementara kampus, penelitian atau riset menjadi urusan selain itu. Padahal, kata UAS, urusan akhlak jelas tanggung jawab bersama.

"Saya bertamu ke rumah salah seorang warga. Ada ibunya, anak gadisnya, ada guru, ada saya. Hari Sabtu malam Ahad. Lalu guru ini bertanya kepada anak gadis itu, 'Kamu malam Minggu kok di rumah, gak punya pacar ya?' 'Gak Bu, di rumah aja,' kata anak gadis itu. 'Hari gini gak punya pacar?' kata ibu guru itu lagi".

"Kata-kata itu singkat, dan mungkin juga bercanda. Tapi sudah masuk ke dalam otak si anak, hari gini anak gadis mesti punya pacar.," kata UAS.

Sangat disayangkan, kata UAS. Terlebih yang bicara itu adalah guru, orang yang diguguh dan ditiru. Dia seorang intelektual, cendikiawan. Menurut UAS, hingga saat ini masih banyak orang marasa guru Biologi, guru Fisika, guru Matematika yang dengan itu seolah-olah tidak punya kewajiban mengurusi akhlak. "Padahal sebenarnya puncak dari ilmu pengetahuan adalah akhlak," kata UAs.

UAS menceritkan, orang Jepang tidak terlalu pusing anak-anak mereka tidak pintar Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, karena masih bisa dikursuskan. Tapi mereka akan sangat risau kalau anak-anak mereka tidak bisa antre, mereka akan sangat gelisah jika anaknya tidak punya etika.

"Mereka tidak sebut akhlak, karena akhlak cuma punya kita (Islam)," kata UAS.

UAS menjelaskan, semua orang mengenal istilah etika. Karena etika merupakan kesepakatan sekelompok orang atau komunitas untuk tempat dan masa tertentu. UAS mencontohkan, saat kita naik pesawat (mendapati) pramugari sangat ramah dan baik. Itu etika penerbangan. Kita masuk, dia tanya kursi nomor berapa? Setelah kita duduk, dia tanya seat belt-nya sudah dipasang? Setelah itu dia tanya, mau minum teh apa kopi? Begitu ramahnya dia, karena memang itu etika dia sebagai pramugari.

"Tapi begitu sampai ke Airport, turun dan bertemu, dia tidak kenal sama kita. Kadang kita senyum, dia cuek. Artinya apa? Itu memang etika dia. Dia dididik untuk selama penerbangan. Sedangkan akhlak, bukan dibentuk manusia. Tapi datang dari Allah Swt. yang dibawa oleh Sayyidina Muhammad Saw," katanya.

UAS menegaskan, seandainya sepakat seluruh Indonesia bahwa semua orang boleh memperlihatkan rambut, itu tidak membatalkan akhlak sebagai hukum Allah Swt. Karena akhlak bukan hasil kesepakatan manusia, melainkan ketundukkan dan kepatuhan terhadap hukum Allah Swt.

"Oleh karena itu, siapa pun kita, apa pun mata kuliah yang diajarkan, lulusan dari fakultas mana pun, maka kita harus berakhlak dan bertanggung jawab terhadap pembentukan akhlak," kata UAS.

Penulis: Eko Adiasaputro
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved