Tausiyah Ceramah Ustadz Abdul Somad Tentang Hukum Bisnis MLM, tidak Boleh Ada Tipu Daya

tanya jawab MLM dalam tinjauan syariat Islam Ustad Abdul Somad, dikutip dari tafaqquh video.

Tausiyah Ceramah Ustadz Abdul Somad Tentang Hukum Bisnis MLM, tidak Boleh Ada Tipu Daya
tribuntimur.com
Ustadz Abdul Somad saat berceramah di salah satu daerah di Indonesia 

 TRIBUNSUMSEL.COM -- Bisnis dengan Sistem Multi Level Marketing (MLM) sempat populer di era awal tahun 2000-an. Saat itu banyak tumbuh perusahaan dengan menawarkan sistem MLM, yakni strategi pemasaran berjenjang atau berantai, di mana tenaga penjual (sales) tidak hanya mendapatkan kompensasi atas penjualan yang mereka hasilkan, tetapi juga atas hasil penjualan sales lain yang mereka rekrut.

Hingga kini bisnis MLM ini sebagian masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun beberapa kasus penipuan dari sistem MLM membuat masyarakat muslim bertanya-tanya, apakah sistem MLM ini sesuai dengan syariat Islam.

Kegusaran ini sempat ditanyakan salah satu jemaah kepada Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam satu kesempatan, tanya jawab MLM dalam tinjauan syariat Islam Ustad Abdul Somad, dikutip dari tafaqquh video.

"Pak Ustadz apa hukumnya bisnis MLM dalam Islam?" tanya jemaah itu.

Ustadz Abdul Somad (UAS) menjawab dengan sebuah ilustrasi.

Antum masukkan modal 300 ribu, beli produk kami. Lalu ajak 10 orang antum akan dapat 3 juta. Cari lagi 10 orang jadi 30 juta begitu seterusnya. Sampai janjinya tinggi hingga jalan-jalan ke Hawai, begitu dia lambungkan orang itu, seperti dihipnotis.

Lalu keluarlah duit, beli produk itu. Selesai beli tak sanggup mencari follower, duit sudah keluar. Pertanyaan, duit yang sudah diberikan tadi kemana? Hilang kan?

Sebenarnya, kata UAS, duit orang-orang (yang beli produk inilah yang diputar. Bayangkan duit 300 ribu dari 1 juta orang, padahal harga produknya paling cuma 100 ribu, berapa perusahaan dapat duit? Rp 300 miliar. Itulah uang yang jadi bonus-bonus dibagikan kalau mampu merekrut orang. Yang tidak sanggup? Berapa orang yang teraniaya. Model usaha yang seperti ini sekali putar setahun 2 tahun mati sendiri, karena duit habis untuk bonus.

Menurut UAS, bisnis MLM, sangat riskan. "Karena itu kalau ditawarkan orang dengan janji bonus hingga mau melambungkan ini, tanya balik. Kalau aku tak sanggung duit modal tadi balik tidak? Kalau tidak (balik), gak usahlah," katanya.

UAS menceritakan, dulu ada MLM umroh datang ke Riau. Tidak ada MUI Riau melabelkan halal untuk umroh MLM, karena ada unsur tipu di dalamnya. Tak sengaja ditipu, uang hilang.
"Masukkan Uang tiga juta, kamu bisa umroh asal dapat mengajak 8 orang, padahal ketika itu umroh Rp 17 juta. Dari mana mereka dapat 14 juta? dari mereka yang masukkan 3 juta tapi tidak dapat folower. Duit itulah yang diputar, ini zholim," jelas UAS.

Makanya dalam islam itu, akad itu mesti selamat dari tiga.
Selamat dari aniaya, selamat dari Ghoror (judi) atau ketidakpastian, selamat dari risk, tipu. "Jangan ada tiga unsur ini, atau salah satu saja, jangan, akad harus jelas. Aku beli ini (produk) dengan harga 300 ribu tunai," UAS mencontohkan.

Begitu juga dengan jual beli online, boleh tapi harus jelas. "Ada gambarnya, ada alamatnya, setujukah akan membeli? maka pembeli harus cerdas," katanya.
Tak lupa UAS meminta negara harus bisa menjamin keselamatan masyarakat dari praktik jual beli yang memperdayakan. "Negara tak boleh membiarkan," demikian UAS.(lisma)

Penulis: Lisma
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved