Presiden Jokowi di Palembang

Sumsel Miliki Kebun Karet Terluas di Indonesia dengan Luasan 1.3 Juta Hektar, Pidato HD Depan Jokowi

Gubernur Sumsel Herman Deru saat memberikan kata sambutan di acara Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) saat Silaturahmi dengan Para Peta

Sumsel Miliki Kebun Karet Terluas di Indonesia dengan Luasan 1.3 Juta Hektar, Pidato HD Depan Jokowi
LINDA/TRIBUNSUMSEL.COM
Gubernur Sumsel Herman Deru dan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) saat Silaturahmi dengan Para Petani Karet Sumsel yang ada di Sumbawa, Sabtu (9/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Gubernur Sumsel Herman Deru saat memberikan kata sambutan di acara Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) saat Silaturahmi dengan Para Petani Karet Sumsel yang ada di Sumbawa mengatakan, bahwa Provinsi Sumsel memiliki sumberdaya alam yang brelimpah berupa tambang, minyak bumi, perkebunan, kehutanan, pertanian dan perikanan.

"Semuanya harus dioptimalkan untuk mewujudkan Sumsel maju untuk semua. Perkebunan di Sumsel merupakan salah satu sektor unggulan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkebunan salah satu pengerak utama atau pilar utama ekonomi di Sumsel," ujarnya, Sabtu (9/3/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa untuk kawasan perkebunan yang ada di Sumsel seluas 3.8 juta hektar. Komoditi yang diusahakan yaitu komoditi karet seluas 1.3 juta hektar, ini merupakan luasan kebun karet terluas di Indonesia. Lalu 1.1 juta hektarnya sawit, kemudian untuk kopi 250 ribu hektar terbesar di Indonesia, serta 65 ribu kelapa dan sisanya aneka tanaman seperti tebuh, teh, lada, tembakau, aren, gambir dan lain-lain.

"Perkebunan salah satu pengerak utama atau pilar utama ekonomi di Sumsel. Karena sebaranya yang sangat luas dan melibatkan 1.234.962 KK petani, data tahun 2017. Jika diasumsikan satu KK empat orang maka 4.8 juta jiwa atau 58.54 persen dari 8.2 juta jiwa penduduk di Sumsel," ungkapnya.

Menurut HD, karet luasnya sudah 1.3 juta hektar dan 95 persen milik rakyat. Namun dibalik kontribusi karet yang nyata, masih tersimpan masalah yang nyata dan perlu dipikirkan pemecahan masalahnya.
Seperti semkain banyak perkebunan yang tua dan rusak.

"Saat ini ada 172.193 hektar tanaman perkebanunan yang tua dan rusak yang didominasi tanaman karet rakyat seluas 129.222 hektar dan ini perlu peremajaan," jelasnya.

Sementara itu menurut HD, harga komiditas ditingkat ekspoar yang saat ini ditentukan dunia mengacu kepada Singapur komoditiy. Untuk itu peningkatan harga petani dilakukan melaui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Dengan petani karet bergabung ke UPPB maka penjualan karet dari petani bisa dilakukan dengan sistem lelang atau kemitraan langsung dengan perusahaan, sehingga harga yang diterima petani bisa lebih baik dari pada dijual sendiri.

"Saat ini di Sumsel sudah terbentuk 177 UPPB. Kedepan perlu ditingkatkan di setiap desa atau Kapupaten/Kota. Karena UPPB ini yang meningkatkan kualitas, sehingga harga juga terbaik," ungkapnya.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved