Video

Video : Polres Prabumulih Bongkar Industri Rumahan Pembuat Pil Ekstasi

Jajaran Satuan reserse (Satres) Narkob Polres Prabumulih, berhasil mengungkap industri rumahan pembuat narkoba jenis ekstsasi

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Jajaran Satuan reserse (Satres) Narkoba Polres Prabumulih, berhasil mengungkap industri rumahan pembuat narkoba jenis ekstsasi berlogo love dan kupu-kupu (butterfly).

Tidak hanya berhasil mengungkap bisnis rumahan pembuatan Narkoba Jenis ekstasi, petugas juga berhasil meringkus pelaku pembuat yakni Rismadi Bin Edi Yansyah (38) warga Jalan Tromol nomor 096 RT 06 RW 01 Kelurahan Sukaraja Kecamatan Prabumulih Selatan Kota Prabumulih.

Sementara pelaku lain inisial BO berhasil kabur dan menjadi buronan petugas.

Bersama pelaku turut diamankan barang bukti berupa 1 piring serbuk warna pink, 27 butir narkotika yang diduga ekstasi, 1set alat cetak ekstasi, 2 alat cetak logo dan 1 hp merk Nokia warna hitam.

Pelaku diringkus ketika tengah membuat ekstasi di rumah pelaku BO di kawasan Jalan Srikandi Kelurahan Prabumulih Kecamatan Prabumulih Barat Kota Prabumulih, pada Jumat (1/3/2019) sekitar pukul 17.30.

Kapolres Prabumulih, AKBP Tito Travolta Hutauruk SIK MH didampingi Kompol Harris Brata SIK beserta Kanitres Narkoba, Ipda Sardinata dan jajaran ketika menggelar press realise pada Selasa (5/3/2019) mengungkapkan pengungkapan produksi ekstasi rumahan itu berkat informasi dari masyarakat.

"Petugas kami melakukan penyelidikan dan berhasil meringkus pelaku, sementara satu pelaku lainnya berhasil kabur dan masih dalam pengejaran petugas kita," tegasnya.

Tito mengungkapkan, pihaknya juga masih menyelidiki dipasarkan ke mana hasil pembuatan ekstasi tersebut, terlebih dalam satu jam pelaku mampu membuat 27 butir.

"Pelaku ini merupakan resedivis kasus ekstasi juga pada 2007, kita masih selidiki dipasarkan ke mana dan sudah berapa banyak diproduksi," ungkapnya seraya mengatakan pelaku akan dikenakan pasal 112 ayat 2 UU no 35/2009 tentang narkoba dengan pidana penjara seumur hidup dan paling singkat 5 tahun.

Kapolres menuturkan, dari hasil pemeriksaan pihaknya terhadap hasil produksi ekstasi rumahan itu diketahui ada unsur zat adiktif dan berbahaya bagi tubuh. "Kita masih dalami bahan-bahan alami apa digunakan pelaku meracik ekstssi itu, jelasnya hasil pemeriksaan kita positif dan ini bukan ekstasi palsu," bebernya.

Sementara Rismadi mengaku dirinya dijebak oleh temannya inisial BO disebabkan dirinya baru membuat satu jam malah diringkus polisi. "Alat-alat untuk membuat itu milik BO (inisial-red) semua, saya diajak membuat karena ada pesanan 50 butir, lalu saya buat dari pukul 16.00 sampai 17.00 dapat 27 butir lalu BO keluar beralasan mau beli rokok dan tidak lama tiba-tiba polisi malah datang menangkap saya," kilah Rismadi ketika diwawancarai Tribunsumsel.com dihadapan polisi.

Menurut Rismadi, dirinya dijanjikan BO dalam membuat ekstasi tersebut dengan bagi hasil masing-masing 50 persen. Ekstasi akan dijual seharga Rp 30 ribu per butir, dan keuntungan dibagi dua. "Katanya ada yang pesan, saya dijanjikan Rp 15 ribu tiap butir, makanya saya mau," kata pria beranak dua dengan kedua kaki serta badan penuh tato itu.

Ditanya bahan apa saja yang digunakan untuk membuat ekstasi tersebut, Rismadi mengaku tidak mengetahui pasti karena yang meracik adalah pelaku BO. "Setahu saya dimasukkan obat sakit kepala Procold, tidak tahun campur apa lagi karena yang mengolah BO bukan saya," ungkap resedivis itu seraya mengaku tidak ada kerjaan setelah keluar sel beberapa waktu lalu. 

Penulis: Edison
Editor: Abriansyah Liberto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved