3 Langkah Penanganan yang Efektif Bagi Anak yang Terlanjur Alami Stunting

Masa emas anak-anak itu yaitu 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) mulai dari dalam kandungan hingga usianya dua tahun.

3 Langkah Penanganan yang Efektif Bagi Anak yang Terlanjur Alami Stunting
TRIBUN FILE/IST
Stanting 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Global Nutrition Report 2014, Indonesia termasuk satu dari 17 negara yang masih mengalami masalah gizi.

Karena itu dunia menyoroti Indonesia agar bisa menurunkan angka kekurangan gizi, baik yang sifatnya akut atau disebut wasting (kondisi kurus karena gizi akut), stunting (tubuh pendek karena kurang gizi kronis) maupun marasmus (bentuk serius malnutrisi).

Salah satu yang bisa dilakukan dalam mengurangi angka kekurangan gizi sejak janin dalam kandungan.

Masa emas anak-anak itu yaitu 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) mulai dari dalam kandungan hingga usianya dua tahun.

Tumbuh dan kembang anak dapat dilihat dari beragam indikator, salah satunya ukuran tinggi badan. Anak-anak yang pendek dapat dikategorikan stunting—apabila penyebab utamanya karena kekurangan nutrisi.

Anak stanting berisiko mengalami ragam masalah: gangguan emosi, kecerdasan, hingga performa akademis yang rendah.

Dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, mengatakan bila sudah terlanjur mengalami gizi buruk ada cara untuk mencegah lanjutannya meskipun tak akan benar-benar kembali normal.

Stanting perlu ditangani secara cepat.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengawasi tumbuh dan kembang anak, mulai dari melihat tinggi dan berat badan anak. Bila bermasalah dan dianggap stanting, segera atasi dengan memberikan nutrisi dan stimulasi gerak.

“Kalau diberikan nutrisi, aspek tumbuh kembang anak stanting bisa meningkat. Kalau ditambah stimulasi aktivitas gerak, skornya bisa naik lagi. Langsung di bawah anak tidak stanting, meskipun tidak sama,” kata Ahmad.

Dua, Ahmad mengatakan orangtua harus memastikan anak mendapatkan ASI eksklusif hingga enam bulan serta makanan pendamping (MP) ASI yang bernutrisi.

Tiga, melakukan stimulasi gerak. Adapun untuk stimulus gerak, dr Michael Triangto, Spesialis Kesehatan Olahraga, menyarankan agar anak dilibatkan dalam aktivitas fisik.

Aktivitas fisik tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga mampu merangsang ketrampilan motorik, perkembangan kognitif dan kemampuan mengelola emosi,” kata Michael.(lisma)

Penulis: Lisma
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved