Video

Video Dokumenter : Nasib Fotografer Monpera di Era Digital

Meskipun tak muda lagi, semangat juang dalam diri Bahtiar (85) layak menjadi contoh bagi anak muda saat ini.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Meskipun tak muda lagi, semangat juang dalam diri Bahtiar (85) layak menjadi contoh bagi anak muda saat ini. 

Di usainya yang sudah tidak lagi muda, pria paruh baya ini biasa menjajakan jasa foto keliling pada para wisatawan yang datang mengunjungi Monumen PErjuangan Rakyat (Monpera) dan sekitarnya.

Bahkan, berkurangnya kemampuan indera pendengaran karena faktor usia, tak menyurutkan semangatnya dalam menjemput rezeki.

Berbekal kamera tua yang digantungkan di lehernya, setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00, Bahtiar terbiasa berkeliling di kawasan Monpera.

Dengan tarif Rp. 15 ribu, untuk satu foto ukuran 3 R, dirinya pun rela mengahadapi teriknya matahari atau dinginnya hujan yang melanda.

Bahtiar bercerita dirinya dulu datang ke Palembang tahun 1952. Ia adalah warga asli daerah Padang sumatera Barat dan datang ke Palembang dengan tujuan merantau.

Sejak tahun 1960, Baktiar sudah menjadi juru foto keliling. Bahkan pekerjaan inilah yang bisa memopang hidup keluarganya. Ia menyebut pekerjaan ini sebagai "wartawan amatir".

Hal besar yang harus dihadapinya saat ini yakni cukup sulit mencari pelanggan pengguna jasanya.

Mengingat, kecanggihan teknologi sekarang ini mau tidak mau mulai menyisihkan profesinya dalam mengabadikan momen kunjungan para wisatawan di kawasan Monpera dan sekitarnya.

Akibatnya saat ini, penghasilan yang ia dapat jadi tak menentu.

Halaman
12
Penulis: Agung Dwipayana
Editor: Abriansyah Liberto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved