Dentuman Misterius di Sumatera Selatan

Dentuman Misterius di Sumsel Masih Jadi Misteri, Bukan dari Anak Krakatau, TNI Bantah Latihan Tempur

Dentuman Misterius di Sumsel Masih Jadi Misteri, Bukan dari Anak Krakatau, TNI Bantah Latihan Tempur

Dentuman Misterius di Sumsel Masih Jadi Misteri, Bukan dari Anak Krakatau, TNI Bantah Latihan Tempur
SRIWIJAYA POST
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengklarifikasi ulang penyebab dentuman misterius yang membuat heboh warga OKU Raya, Senin (24/12) malam.

Kristianto, Kasubnit Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat, mengatakan setelah dilakukan penelusuran ternyata pada pukul 23.00 saat terjadi dentuman, tidak mencatat aktivitas signifikan dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pernyataan ini disampaikan Kristianto saat dikonformasi untuk kedua kalinya oleh Tribunsumsel.com.

Pada konfirmasi pertama, ia memang menyebutkan ada hubungan antara suara dentuman itu.

Namun setelah diperiksa detil dimana dentuman keras itu terdengar sekitar pukul 23.00, ia menyebutkan tak ada suara sangat keras yang keluar dari erupsi pada waktu tersebut.

"Suara sampai di Cianjur dan Sukabumi jauh banget (dari anak krakatau, red)," katanya, Selasa (25/12). Sementara jarak Anak Krakatau ke wilayah OKU Raya sekira 230 Km.

Kristianto saat dihubungi Tribunsumsel.com, sedang berada di pos Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Suara dentuman menyerupai ledakan menghebohkan masyarakat di wilayah Ogan Komering Ulu (OKU). Bahkan menyebar kehebohan dimana-mana.

Wilayah tetangga seperti OKU Selatan dan OKU Timur juga merasakan yang sama.

Menurut informasi di lapangan dentuman cukup keras. Lebih dari lima kali suara keras itu terdengar.

Bermacam-macam praduga. Ada yang mengatakan oleh bencana alam. Ada juga yang mengatakan terlait latihan tentara. Belum ada kepastian dari mana sumber suara tersebut berasal.

Namun TNI menegaskan bukan karena ada latihan tempur.

Dandim 0403 OKU Letkol Arm Agung Widodo, melalui Pasi Intel Kodim 0403 OKU, Kapten Inf Hasan Jabar Tanjung saat dikonfirmasi Tribun Sumsel, Selasa (25/12), mengatakan, mengenai suara dentuman tersebut bahwa saat ini TNI tidak ada aktivitas apapun.

Termasuk aktivitas latihan juga selesai.

"Tidak ada aktivitas latihan. Kita sekarang fokus pengamanan Natal dan Tahun Baru," kata Kapten Tanjung.

Saat ini kata dia, pihaknya juga mencari informasi terkait suara tersebut.

"Menurut informasi ada yang mengatakan jika dentuman hebat tersebut berasal dari aktivitas anak gunung Krakatau yang erupsi beberapa hari lalu."

"Ini belum bisa dipastikan. Kita juga sedang mencari informasi," katanya.

Pernyataan Kodim ini juga dipertegas dengan keterangan dari Kapendam II Sriwijaya yang menegaskan tak ada latihan tempur.

"Kodam II dan jajaran tidak ada melakukan latihan tempur," katanya.

Lapan Juga Bantah

Kabar terbaru yang beredar ada yang mengaitkannya dengan aktifitas uji roket yang dilaksanakan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) di Garut Selatan, Jawa Barat.

Tribunsusmel.com menghubungi Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Selasa (25/12) pukul 16.30.

Thomas mengatakan tidak ada hubungannya antara suara yang di dengar di wilayah Jawa Barat dengan yang ada di Sumatera Selatan dan mengaitkannya dengan uji roket Lapan.

Uji roket Lapan sendiri dilaksanakan pagi hari. Sementara suara dentuman yang katanya did engar warga Sumsel terjadi pukul 23.00 malam kemarin.

"Sama seperti cerita sebelumnya ada suara dan masyarakat mengait-ngaitkannya. Saya rasa itu hal biasa saja," katanya.

Uji roket Lapan juga tak menimbulkan suara dentuman. Lebih ke suara desis atau dengung.

"Dan bunyinya bukan dentuman tapi seperti desis. Dan itu tidak mungkin terdengar di banyak kota," katanya.

"Suara kan suara lokal macam-macam bisa saja petir. Hanya saja masayarakat masih sering mengaitkan sesuatu yang biasa tapi dianggap luar biasa," katanya.

Uji roket Lapan sendiri dilaksanakan sejak 23 Desember 2018 sampai 27 Desember nanti.

Tak Terpantau BMKG

Tribunsumsel.com sudah menghubungi BMKG untuk mengetahui apakah ada gejala-gejala yang ditangkap BMKG atas perkara ini.

Saat ditanyakan ke grup whatsapp info resmi BMKG SMB II menyatakan bahwa tak ada cuaca yang signifikan di sekitar OKUS.

"Dari pantauan citra radar dari pukul 19.00 WIB sampai pukul 01.00 WIB, tidak terlihat kondisi cuaca yang signifikan di daerah OKUS dan sekitarnya."

Artinya Potensi untuk terjadinya petir/guntur di daerah tersebut bisa dikatakan nihil. Untuk sementara mungkin seperti itu, nanti coba kami cari info-info lain."

Kasi Data dan Informasi BMKG Kenten Palembang, Nandang mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi tersebut. BMKG Stageof Bengkulu sebagai Stasiun Pengamat Seismik atau kegempaan terdekat juga belum mengabarkan info lebih lanjut prihal dentuman yang didengar warga pada dini hari.

"Kami dari BMKG Stalking Palembang belum mendapatkan informasi terkait itu (dentuman), BMKG Bengkulu juga belum memberikan penjelasan," ujar Nandang.

Ia menjelaskan, terkait suara yang terdengar di langit sebagian wilayah Sumsel, analisis sementara tercatat dari pantauan citra Radar dan Satelit Cuaca di Stasiun Meteorologi SMB II Palembang tidak ada indikasi parameter cuaca yang menyebabkan suara tersebut.

"Untuk pergerakan Vulkanologi dan Cincin Api Asia yang lebih berkompeten menyampaikan adalah Badan Geologi atau PVMBG. Bila ada kaitannya dengan Anak krakatau tersebut perlu narasi dari Pembuktian Ilmiah," ungkapnya.

Pihaknya juga belum dapat memastikan apakah siaran dentuman ada kaitannya dengan bencana tsunami Selat Sunda yang dihasilkan dari anak gunung krakatau.

Bila fenomena suara dentuman tersebut terkait cuaca, BMKG memastikan prakiraan suara itu dihasilkan dari awan CB (Cumulonimbus) yang ada di sekitar lokasi.

"Belum tau dari Anak Krakatau atau bukan, jika faktor cuaca bisa jadi itu karena faktor awan CB. Karena fenomena awan CB bisa menghasikan surara guntur atau petir dari ari jarak yang cukup jauh," jelasnya.

BMKG Palembang juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, jangan panik dan selalu waspada akan kondisi alam di sekitar.

Dalam kondisi seperti ini kerap kali banyak oknum yang memanfaatkan situasi untuk menyebarkan berita tidak benar alias hoax di media sosial.

Apabila warga termakan informasi yang salah, dikhawatirkan dapat membuat masyarakat menjadi semakin panik.

"Kami imbau untuk warga agar tetap tenang dan jangan panik. Tetap waspada dengan kondisi alam sekitar rumah. WArga juga harus selalu cerdas dalam memverifikasi informasi yang didapat jangan mudah percaya," tegasnya. (pma/ard/rws/oca/sp)

Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved