Viral

Viral, Lihat Aksi Anak Punk Ini, Tak Disangka Ini yang Dilakukannya, Bikin yang Melihat Terenyuh

Anak punk itu menyisihkan uang hasil dari mengamennya untuk bersedekah pembangunan sebuah Musholla

Viral, Lihat Aksi Anak Punk Ini, Tak Disangka Ini yang Dilakukannya, Bikin yang Melihat Terenyuh
Instagran makassar_iinfo
Anak Punk sisihkan uangnya untuk sedekah pembangunan Masjid 

Pada 2013 Band Metal bernama Kill Destiny bubar.

Anji Konser di Palembang dengan Konsep Eksklusif dan Mewah, Ini Harga Tiket dan Jadwalnya

Farouq pun menjadi anak punk.

Saat itu dia berusia 15 tahun. Namun pendidikan akhirnya hanya SMP. Itu pertama kalinya Farouq keluar dari rumah.

"Saya pamit sama mama. Kata dia tidak masalah mau berkelana, asalkan jaga diri. Ibu saya pun berikan target berapa bulan sekali saya harus pulang. Awalnya dua bulan sekali dia selalu menelepon agar pulang dulu. Sekarang saya pulang satu tahun satu kali," ujarnya.

Farouq anak kedua dari empat bersaudara. Kakak paling tua ada di Malang, Adik nomor tiga sekolah di Madura juga dengan biaya sendiri. Sedangkan yang satunya lagi masih ikut ibunya.

Farouq sudah berjelajah hingga ke seluruh daerah di Pulau Jawa. Hanya bermodalkan gitar dan nekat. Puas dengan Jawa. Akhirnya dia melanjutkan perjalanan seninya di Pulau Sulawesi. Mulai dari Makassar, Palu. Dan kemudian Gorontalo.

Di Gorontalo, Farouq tak hanya mengamen mencari uang makan. Ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA.

"Dengan uang yang saya kumpulkan dari mengamen dan kiriman dari ibu. Saya mendaftar sekolah di SMK N 1 Limboto Provinsi Gorontalo. Saya masuk mendaftar di sekolah dengan kondisi punk. Rambut saya acak-acakan. Saya mau menghilangkan citra anak underground yang katanya nakal. Jadi saya sekolah," ujar dia.

Pertama masuk kata pihak sekolah Farouq harus memangkas rambutnya terlebih dahulu. Ia pun Melakukannya dan akhirnya bersekolah.

"Disitu saya buktikan. Bahwa kami anak punk juga bisa berprestasi. Saya terpilih sebagai pasibraka tepatnya pembentang di tingkat Provinsi Gorontalo pada tahun 2014.

Waktu itu saya kelas 11 atau kelas dua. Selain itu saya juga pernah ikut lomba cerdas cermat tentang kenegaraan.

Meskipun saya tidak juara. Karena bakat saya di band. Saya ikut lomba festival band juara satu se Provinsi Gorontalo alat musik yang saya mainkan yaitu keyboard," ujar dia.

Farouq kini hanya mempunyai seorang ibu. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya bernama Rina Dwi Lestari (42) selalu mengirimkan uang kepadanya.

"Mama kerja di Surabaya. Punya toko roti lumayan besar. Toko itu sudah ada sejak saya kecil dan bahkan sebelum saya lahir.

Perbulan biasanya ibu kirim Rp 1.5 juta paling banyak. Paling sedikit Rp 500 ribu kalau ibu lagi kekurangan," ujar Farouq.

Namun kiriman ibunya tidak cukup menutupi biaya hidupnya yang setiap bulan Rp 3 juta. "Saya yang penuhi sendiri dengan banyak cara.

Saya pernah buka lapak kaos. Per bulannya bisa mendapatkan untuk Rp 3 sampai Rp 4 juta. Namun usaha tersebut hanya bertahan sekitar 4 bulan saja.

Rieta Amilia Pamer Foto Lawas Bersama Nagita Slavina dan Caca Tengker, Penampilannya Bak Kakak Adik

10 Lagu Bertema Ibu Paling Populer, Cocok Didengar saat Hari Ibu 22 Desember, Liriknya Bikin Sedih

Saya bangkrut karena banyak teman yang ngutang. Untuk modal saya kumpulkan uang," ujar dia.

"Saya sebelumnya pernah ke Kotamobagu. Ngamen disini. Hasilnya pernah sampai Rp 1 juta dalam satu malam. Hasil itu saya bagi dengan tiga orang teman," ungkapnya.

Sudah sekitar empat tahun Farouq hidup di jalanan jauh dari ibunya dan jauh dari rumah. "Saat ini saya punya harapannya. Disamping menjalankan hobi bermain musik di jalanan.

Saya berpikir kedepan saya harus kuliah. Saya ingin kuliah demi masa depan yang cerah," ujarnya. 

Penulis: Euis Ratna Sari
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved