Kisah Perempuan Yazidi yang Takut Pulang karena Malu Pernah Jadi Tahanan dan Budak Seks ISIS
Kisah Perempuan Yazidi yang Takut Pulang karena Malu Pernah Jadi Tahanan dan Budak Seks ISIS
TRIBUNSUMSEL.COM - Kisah Perempuan Yazidi yang Takut Pulang karena Malu Pernah Jadi Tahanan dan Budak Seks ISIS
Di tengah wilayah yang dilanda konflik di Timur Tengahtersebutlah kelompok etinitas minoritas yang menamai diri Yazidi.
Awalnya banyak yang tak tahu siapa mereka, hingga muncullah militan ISISyang menjadikan mereka sebagai objek penculikan yang kemudian dijadikan budak seks.
Banyak kisah orang Yazidi yang melewati getirnya kedidupan karena berjuang dengan kehidupan yang selalu terancam kelompok ISIS.
Melansir dari Saudi Gazette, kegetiran hidup sebagai orang Yazidi begitu terasa ketika seorang wanita Yazidi bernama Mayasa Abbas mengatakan pengalaman kehidupannya.
Kepada Al Arabiya ia bilang, meskipun dibebaskan dari tahanan ISIS, pengalaman mengerikan masih terus hidup dalam pikirannya.
"Saya senang bahwa saya meninggalkan ISIS, tetapi saat-saat kejam tidak pernah meninggalkan pikiran saya, dan kebahagiaan saya tidak akan pernah lengkap (lagi)," katanya.
"Ketika saya mengingat jam-jam pertama ketika para militan memasuki desa kami, saya merasa takut, dan perasaan itu tidak pernah meninggalkan saya sampai akhirnya saya dapat melarikan diri dari mereka," tambah Abbas.
"Banyak wanita Yazidi bunuh diri karena diperlakukan dengan sangat buruk, dan kami semua tinggal di daerah yang berbeda di Suriah," katanya menambahkan.

Setelah diculik mereka dipaksa melakukan banyak hal yang tidak mereka sukai, salah satunya adalah meminum alkohol.
Direktorat Jenderal Urusan Yazidi di pemerintahan Kurdistan Irak mengatakan bahwa statistik terbaru menunjukkan sekitar 3.500 gadis Yazidi yang masih ditahan ISIS pada September 2018.
Namun, banyak pula wanita Yazidi yang selamat takut kembali ke kampung halaman karena malu, menurut laporan wartawan Suriah, Jaber Jindo, pada Al Arabiya.
Bahkan, sebagai akibat dari hilangnya anak-anak gadis orang Yazidi, mereka mengeluarkan sejumlah uang besar pada perantara untuk menemukan anak gadis mereka.
Meski demikian, banyak gadis yang menyembunyikan identitas mereka dan memilih tidak pulang karena malu.
Karenanya, Dewan Yazidi Spiritual tertinggi mengatakan pada masyarakat untuk menerima korban ISIS setelah kembali pada orang tua mereka tanpa tekanan batin.