Raih Emas di Huaian China, Climber Aries 'Spiderwoman' Susanti Persembahkan Untuk Korban di Palu

Aries Susanti Rahayu kembali meraih emas pada kejuaraan Belt & Road International Climbing Master Tournament yang digelar di Huaian

Raih Emas di Huaian China, Climber Aries 'Spiderwoman' Susanti Persembahkan Untuk Korban di Palu
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
Atlet putri panjat tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu melakukan selebrasi setelah berhasil meraih mendali emas pada ajang Asian Games 2018 di Venue panjat tebing, Jakabaring Sport City, Palembang, Kamis (23/8/2018).TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO 

TRIBUNSUMSEL.COM - Atlet panjat tebing Indonesia Aries Susanti Rahayu kembali meraih emas pada kejuaraan Belt & Road International Climbing Master Tournament yang digelar di Huaian, China, 9-10 Oktober 2018.

Aries "Spiderwoman" Susanti ini kembali mencatatkan namanya di ajang kejuaraan dunia panjat tebing. Sebelumnya ia juga berhasil menjadi juara di China pada beberapa waktu lalu.

Baca: Fakta-fakta Wartawan Saudi Jamal Khashoggi Tewas di Turki, Kenal dengan Osama Bin Laden

Bahkan di Asian Games 2018 ia juga menyumbangkan medali emas.

Kemenangan di Huaian China diketahui setelah ia mengunggah tengah naik podium juara.

Baca: Olla Ramlan Ajak Pengasuh Anaknya Liburan ke Turki, Terungkap Begini Perlakuannya

Kemenangannya juga didedikasikan kepada korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.

EMAS. Terima kasih kepada Alloh SWT, FPTI, Pelatih, teman-teman dan para pendukung. Alhamdulillah, pada Belt & Road International Climbing Master Tournament yang digelar di Huaian, China, 9-10 Oktober 2018, dapat meraih medali emas. Kemenangan ini saya persembahkan untuk saudara-saudara di Palu dan Donggala. #ariessusantirahayu #fpti #ifscclimbing #panjattebing #sportclimbing #sportclimbingroadtoolympictokyo2020
Sementara, dalam rilis yang diterima Tribunsumsel.com, Climber asal Musi Banyuasin (Muba), Muhammad Hinayah, yang tergabung dalam Tim Speed Indonesia, kembali hanya menempati peringkat empat pada ajang The Belt and Road International Climbing Master Tournament 2018 di Huaian, Tiongkok, Rabu (10/10).

Pada fase semifinal men’s speed, saat berhadapan dengan pemanjat Indonesia lainnya, Pangeran Septo Wibowo, cengkraman Hinayah terlepas dari poin dinding hingga mengalami fall atau tak mampu mencapai top.

Kemudian pada perebutan medali perunggu, lagi-lagi Hinayah dikalahkan Sabri catatan waktu 6,28 detik, sedangkan Hinayah mencatatkan waktu 6,37 detik.

Baca: Sekarang Masuk Bulan Safar: Ini Keutamannya dan Lakukan 7 Amalan Bulan Safar 1440 Hijriyah

Pada nomor ini, medali emas diraih Pangeran Septo Wibowo dengan catatan waktu 6,33 detik, setelah sang lawan Rukin Sergei, dari Rusia yang fall saat final.

“Saat di semifinal menghadapi Pangeran, saya mengalami fall. Kemudian, ketika memperebutkan perunggu, saya kembali kalah dari Sabri. Tapi saya tetap bangga, karena Indonesia jadi juara untuk nomor ini,” ungkap Hinayah, saat dikonfirmasi Kamis (11/10).

Hinayah menerangkan, bahwa even di Huaian, ini pemanjat senior tidak begitu banyak. Berbeda dengan even IFSC World Cup Series di Wujiang (20-21 Oktober) dan di Xiamen (27-28 Oktober), Tiongkok, yang penuh dengan pemanjat senior.

“Setelah even di Huaian, saya akan mengikuti even sejenis di Wanyiasan tanggal 13-14 nanti. Kemudian dua even seri dunia, yang memang lebih berat lagi. Karena cukup banyak pemanjat senior. Tapi saya berharap doanya agar bisa menang,” terangnya.

Pelatih speed Indonesia, Hendra Basir mengatakan, atlet yang berangkat ke Tiongkok untuk mengikuti kompetisi ini adalah Aspar Jaelolo, Alfian M Fajri, Sabri, Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Pangeran Septo Wibowo, Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, Agustina Sari, dan Nurul Iqamah.

Penulis: Siemen Martin
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved