Mengenal Bahaya TAR dan Nikotin di Rokok, Ini Saran Pakar Kesehatan Bagaimana Cara Berhenti Merokok

Produk tembakau alternatif bisa menjadi solusi bagi perokok aktif ingin berhenti namun kesulitan dan akhirnya memilih secara bertahap

Mengenal Bahaya TAR dan Nikotin di Rokok, Ini Saran Pakar Kesehatan Bagaimana Cara Berhenti Merokok
Tribun Sumsel/ Hartati
Diskusi publik tentang produk tembakau alternatif di Palembang yang dilaksanakan KABAR, Rabu (26/9/2018). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, dr Ardini Raksanagara MPH, mengatakan bahwa perokok dan masyarakat luas perlu diedukasi mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam rokok, seperti TAR.

Dikatakannya 45 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 50 juta orang dengan rentang usai belasan tahun hingga orangtua tercatat merupakan perokok aktif. Angka ini akan terus meningkat setiap tahun seiring perkembangan penduduk.

Perokok aktif  di tanah air rupanya  bukan hanya dimonopoli pria dewasa saja tapi juga sudah merambah anak, remaja bahkan wanita.

Baca: Proses Belajar Mengajar Tak Kondusif, Siswa 2 Kelas Belajar di Satu Ruangan dengan 2 Guru Berbeda

Baca: Gusdurian Dukung Jokowi, Politisi PKS Bilang Efek Sandi Jauh Lebih Kuat

Dulunya paradigma wanita perokok dianggap sebagai "nakal" sudah beralih menjadi anggapan keren dan modern jika wanita merokok apalagi di tempat umum misalnya mall, dan area publik lainnya.

"Dulu wanita merokok itu selalu dicap negatif tapi sekarang semakin menjamur mal, wanita dan ABG merokok merupakan pemandangan lumrah bahkan dicap kekinian, inilah yang semakin sulit mengedukasi masyarakat untuk berhenti merokok padahal sudah tahu bahayanya," katanya, Rabu (26/9/2018).

Baca: Gubernur Sumsel Terpilih Herman Deru Kirim Tim Transisi ke Pemprov Sumsel, Ini Tugasnya

Baca: Terpaut Usia 18 Tahun, Inilah Potret Istri Kedua Parto Patrio yang Jarang Terekpose, Muda dan Cantik

Dia sendiri menyesal tidak bisa membuat kelaurga besarnya berhenti merokok termasuk saudara dan orangtuanya.

"Mertua adik saya bahkan dengan bangga berbagi resep panjang umur hingga 95 tahun karena kebiasaan merokok, padahal zat nikotin dalam rokok sangat bahaya dan bisa menyebabkan kematian," lanjut Ardini.

Untuk meminimalisir bahaya Tar dalam rokok maka perokok diedukasi untuk beralih menggunakan rokok non dibakar. TAR merupakan zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk pada saat rokok dibakar.

Zat ini merupakan penyebab perokok kerap mengalami penyakit jantung, pernapasan, serta kanker.

Sedangkan, nikotin adalah zat alami yang terdapat pada tembakau. Meskipun nikotin bukan penyebab penyakit akibat rokok, zat ini tidak bebas risiko dan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan ketergantungan.

Halaman
12
Penulis: Hartati
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help