Berita Prabumulih

Warga Sukaraja Prabumulih Klaim Sumur Tercemar, Minta Kompensasi dari Pengeboran Pertamina

Warga mengeluh lantaran apa yang diminta warga seperti air, tenda dan lainnya lamban diberikan perusahaan plat merah itu.

Warga Sukaraja Prabumulih Klaim Sumur Tercemar, Minta Kompensasi dari Pengeboran Pertamina
Tribun Sumsel/ Edison
Belasan warga Kelurahan Sukaraja Kecamatan Prabumulih Selatan ketika menyampaikan aspirasi di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Prabumulih, Senin (10/9/2018). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Belasan warga RT 04 Kelurahan Sukaraja Kecamatan Prabumulih Selatan kota Prabumulih, mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prabumulih, Senin (10/9/2018).

Perwakilan warga itu mendatangi dewan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta bantuan agar dewan memfasilitasi pihaknya dengan PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih terkait kompensasi serta janji yang tak terealisasi akibat pengeboran sumur PMB 23 Sukaraja.

"Dari awal warga menolak pengeboran sumur itu karena letaknya di perkampungan dan dipastikan akan menimbulkan gejolak sosial, buktinya setelah dua minggu pengeboran sumur warga tercemar dan tidak ada langkah antisipasi," ungkap Marhen, satu diantara perwakilan warga dihadapan Ketua DPRD Prabumulih, H Ahmad Palo SE dan jajaran.

Marhen mengatakan, warga mengeluh lantaran apa yang diminta warga seperti air, tenda dan lainnya lamban diberikan perusahaan plat merah itu.

Baca: BMP Singgung Sandiaga Uno Rp 100 Ribu Cuma Dapat Cabai dan Bawang, Mungkin Mau Buka Restoran

Baca: Pembegal ini Pura-pura jadi Polisi untuk Takuti Korbannya, Pistol yang Digunakan juga Pura-pura

Baca: Frustasi Penyakit yang Diderita Tak Kunjung Sembuh, Warga Kikim Lahat ini Nekat Bunuh Diri

Selain itu masalah pencemaran di sumur warga yang secara kasat mata berminyak dan bau diklaim Pertamina dari hasil Lingkungan Hidup Pemkot Prabumulih bukan akibat pengeboran.

"Kami warga selama bertahun tinggal di rumah tidak pernah air berminyak dan bau serta kalau kemarau sumur banyak air, ini karena apa lagi kalau bukan dampak pengeboran," katanya.

Hal yang sama disampaikan Andre, perwakilan warga lainnya yang menuturkan, sejauh ini warga dengan pertamina telah menggelar beberapa kali pertemuan ditengahi pihak Polres dan kejaksaan namun tidak pernah ada hasil dan apa yang dijanjikan selalu tidak ditepati.

Baca: Ultah ke-68, Gubernur Sumsel Alex Noerdin dapat Kejutan Spesial

Baca: Pertandingan Persipura Vs Sriwijaya FC Gojek Liga 1- Amailton dan Subangkit Saling Puji Jelang Laga

"Dari awal kami protes karena lokasi tidak sesuai atau tidak cocok yakni di perkampungan warga. Namun selalu kucing-kucingan dengan warga dan informasinya pengeboran itu tidak ada izin prinsip tapi tetap berjalan, kita yang protes dituduh provokator," ungkapnya.

Andre membeberkan, sebetulnya warga tidak banyak menuntut dan itupun tanpa memaksa yakni meminta kompensasi kebisingan akibat aktivitas pengeboran dimana saru rumah Rp 2,5 juta, air bersih, tenda dan tenaga kerja lokal diberdayakan.

Halaman
12
Penulis: Edison
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved