Berita Sriwijaya FC

Berita Sriwijaya FC Hari ini: Awal Terbentuknya Sriwijaya FC dan Akan Dikelola Seperti Klub Eropa

ejak tahun 2008, Sriwijaya FC melalui PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tak lagi memberikan penyertaan modal

Berita Sriwijaya FC Hari ini: Awal Terbentuknya Sriwijaya FC dan Akan Dikelola Seperti Klub Eropa
TRIBUNSUMSEL.COM/WENI WAHYUNY
Press Conference di Cafe Swarna Dwipa bersama dengan Komisaris Utama sekaligus Direktur Utama PT SOM, Muddai Madang didampingi Sekretaris PT SOM, Faisal Mursyid, Minggu (9/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Weni Wahyuny

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sejak tahun 2008, Sriwijaya FC melalui PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tak lagi memberikan penyertaan modal ntuk SFC sejak di take over dari Yayasan Sekolah Sepakbola menjadi PT SOM.

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu pemegang saham sekaligus pendiri dan Komisaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Bakti Setiawan mengatakan bahwa selama adanya SFC sejak tahun 2005, tim berjuluk Laskar Wong Kito itu ada suntikan dari Pemda melalui Yayasan Sekolah Sepakbola dan sejak 2008 ada regulasi dari Departemen Dalam Negeri bahwa pemerintah tidak boleh menyuntikan dana untuk klub sepakbola, maka sejak saat itu tidak ada lagi penyertaan modal.

“Alhamdulillah kita mengelolah SFC dengan bantuan sponsor hingga saat ini. Apapun yang terjadi terkait dengan SFC kita akan berusaha untuk SFC,” kata Bakti pada Press Conference di Cafe Swarna Dwipa bersama dengan Komisaris Utama sekaligus Direktur Utama PT SOM, Muddai Madang didampingi Sekretaris PT SOM, Faisal Mursyid, Minggu (9/9).

Ia menceritakan awal mula SFC berdiri dari dikelolah oleh Yayasan Sekolah Sepakbola ke profesional. Bakti menjelaskan seperti diketahui SFC didirikan Oktober 2004 dengan adanya usulan kepada Pemda Sumatera Selatan yang saat itu gubernurnya adalah Syahrial Oesman. Bakti mengaku pada saat itu ia meminta kepada Syahrial Oesman bagiamana manfaatkan stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) yang megah itu.

“Jadi bagaimana manfaatkan stadion yang bagus, sudah taraf internasional karena katanya kalah tidak ada aktivitas maka jadi monumen, saya sampaikan kalau stadion itu tidak dipakai maka akan jadi monumen. Oleh sebab itu kita harus punya klub (sepakbola) elite,” jelasnya.

Ia meneruskan waktu itu Bakti menjadi Ketua Umum Ps Palembang yang waktu itu masuk divisi 3. Pada tahun 2004 masuk divisi 1.

“Selanjutnya bicara dengan pak Syahrial Oesman harus ada divisi utama. Sangat berat sekali karena waktu, biaya bagiamana buat terobosan dengan take over dari klub yang masuk di divisi utama. Saat itu Persijatim sudah diusir dari Solo, dan rencananya kita akan tarik klub itu dan Pak Syahrial setuju, saya diminta buat proposal,” jelasnya.

Pasa 23 Oktober, sambung Bakti resmi Persijatim berubah menjadi Sriwijaya FC dengan ditandai tandatangan oleh beberapa pihak terkait. Bakti melanjutkan dalam perjalanan 2004-2005, SFC berjalan mulai dengan penonton yang terbatas dan semuanya serba terbatas, artinya bagaimana pihaknya membuat kesebelasan in menjadi kesebelasan yang handal untuk Sumsel.

“2004-2005 masih tertatih-tatih, maklum masih baru masuk kesebelasan. Ada regulasi dimana akhirnya klub divisi utama masuk liga utama yang mana menyasar apabila menjadi juara akan ke liga champion,” terang Bakti.

Halaman
12
Penulis: Weni Wahyuny
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help