Vaksin MR

57 Sekolah di Muara Enim Tolak Vaksin MR, Tercatat 5 Daerah di Sumsel Tunda Pemberian Vaksi Ini

Awalnya sekolah setuju untuk dilakukan imunisasi namun tiba-tiba melakukan penolakan, petugas terlanjur datang terpaksa pulang

57 Sekolah di Muara Enim Tolak Vaksin MR, Tercatat 5 Daerah di Sumsel Tunda Pemberian Vaksi Ini
Tribun Sumsel/ Ika Anggraini
Suasana rapat pembahasan masalah imunisasi MR di Pemkab Muaraenim 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com,Ika Anggraeni

TRIBUNSUMSEL.COM,MUARAENIM-Sebanyak 57 sekolah di kabupaten Muaraenim hingga saat ini masih menolak untuk anak didiknya dilakukan Imunisasi Measle Rubella (MR).

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di ruang rapat Bupati Muaraenim,Rabu,(28/8) dan dipimpin oleh Asisten III,Drs Ibrahim Ilyas dan dihadiri oleh Kadinkes Sumsel melalui Kabid Pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P), Ferri Yanuar, Perwakilam dari UNICEF Sumsel,Jana.

Baca: Seribu PHL Pemkot Prabumulih Bakal Dikurangi Karena Daerah Tak Sanggup Bayar

Baca: Viral Aksi Hanifan Satukan Jokowi dan Prabowo Dalam Rangkulan, Warganet Sebut Politik Adem

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muaraenim,Vivi Maryani Melalui Kasi Surveilans dan Imunisasi,Riana JS SKM M Epid bahwa hingga saat ini dari laporan yang diterima oleh pihaknya ada sebanyak 57 sekolah di kabupaten Muaraenim yang hingga saat ini masih menolak dan minta ditunda pemberian imunisasi MR.

"Alasan pihak sekolah yang melakukan penolakan dikarenakan orang tua siswa tidak memberikan izin untuk anaknya di imunisasi dikarenakan kesimpang siuran informasi masalah vaksin MR tersebut, Bahkan karena awalnya pihak sekolah setuju untuk dilakukan imunisasi namun tiba-tiba melakukan penolakan, petugas kita yang terkadang sudah terlanjur datang kesekolah terpaksa pulang tanpa melaksanakan imunisasi," katanya.

Baca: Hanifan Yudani Kusumah -- Profil Atlet Silat Peraih Medali Emas Ajak Jokowi dan Prabowo Berpelukan

Baca: Nenek 90 Tahun Suku Anak Dalam (SAD) Dikurung di Gubuk Kecil, Ini Alasan Keluarga

Ia juga mengatakan akibat penolakan ini target pemberian imunisasi MR di kabupaten Muaraenim masih rendah.

" Saat ini dari sekitar 170.000 anak yang menjadi sasaran imunisasi, saat ini baru sekitar 29 persen, dan persentase ini masih dibawah persentase provinsi yang saat ini sudah mencapai 33 persen, padahal waktu pemberian vaksin di sekolah akan berakhir, karena di bulan september nanti kita akan melaksanakan pemberian vaksin di fasilitas kesehatan masyarakat dan Posyandu," katanya.

Sementara itu diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel melalui Kabid pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) Ferri Yanuar mengatakan karena adanya fatwa dari MUI sebelumnya terkait proses pemurnian enzim vaksin MR melalui babi berimbas juga pada beberapa daerah di Sumsel yang melakukan penundaan pemberian vaksin MR.

Baca: Oknum Anggota DPRD Muba Diduga Curi 100 Kantong Daging Kurban, Kapolres Sita CCTV

Baca: Produksi Beras 75 Ton Setahun, tapi Banyak Petani di OKU Enggan Jual Beras ke Pasar

"Hingga saat ini ada 5 kabupaten dan kota yang hingga saat ini masih melakukan penundaan diantaranya Banyuasin,Pagaralam,OKUS,Lahat dan Muaraenim," katanya.

Ia juga berharap dengan adanya fatwa MUI terbaru nomor 33 tahun 2018 yang mengatakan bahwa karena belum ada vaksin pengganti dan vaksin MR tersebut boleh digunakan untuk kondisi darurat dan penggunaan vaksin MR ini hukumnya Mubah.

" Harapan kita program pemberian vaksin ini dapat dilanjutkan kembali, karena pemberian vaksin inilah sebagai salah satu usaha kita untuk melakukan pencegahaan terhadap virus campak dan rubella karena jika campak dan rubbela sudah menyerang maka dampak paling fatalnya yakni bisa menyebabkan cacat hingga berujung pada kematian," jelasnya.

Baca: Erick Tohir:Indonesia Layak Ikut Bidding Olimpiade 2032, Presiden Olimpiade Temui Jokowi 1 September

Baca: Anda Kena Pajak Progresif? Mungkin Mobil Belum Blokir Dokumen Dijual atau Hilang, Ini Syaratnya

Diungkapkannya untuk tahun 2017 di sumsel tercatat ada sebanyak 1253 kasus campak klinis yang ditemukan.

" 270 diantaranya ditemukan di Muaraenim, untuk tahun 2018 hingga Juli ini ditemukan sebanyak 270 kasus dan 39 nya di temukan di Muaraenim," jelasnya.

Sementara untuk kasus Rubella dari hasil Konfirmasi Laboratorium, tahun 2017 ditemukan sebanyak 31 kasus dan tahun 2018 ini baru ditemukan 1 kasus.

" Sementara untuk Congenital Rubella Syndrome (CRS) tercatat sebanyak 7 kasus tahun 2017 dan 2018 ini belum ditemukan," pungkasnya.

Penulis: Ika Anggraeni
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help