Ogan Komering Ilir

Tim Restorasi Asal Papua Study Banding ke OKI

Keberhasilan pengelolaan lahan gambut Plasma Nutfah di Sepucuk Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

Tim Restorasi Asal Papua Study Banding ke OKI
SRIPOKU/MAT BODOK
wan Triono MHut MSi, Kabid Pengelolaan Kualitas Lingkungan DLH Papua dan Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Tabroni mengaku pihaknya terus berupaya mengembangkan pengelolaan lahan gambut serta rombongan berpose bersama di kebun konservasi plasma Nutfah 
TRIBUNSUMSEL.COM,KAYUAGUNG - Keberhasilan pengelolaan lahan gambut Plasma Nutfah di Sepucuk Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam menanggulangi kebakaran lahan, mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Termasuk Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Papua, yang akhirnya melakukan study banding ke lokasi tersebut, Kamis (10/8/2018).
Kedatangan rombongan TRGD Papua yang diketuai Iwan Triono MHut MSi ini didampingi Tim Balai Litbang LHK Palembang. Selain mendapatkan materi pengelolaan lahan gambut, rombongan ini juga mengunjungi lahan Plasma Nutfah dan lahan budidaya Nanas, serta tanaman sayur mayur yang merupakan binaan Balai Litbang LHK Palembang.
Iwan Triono MHut MSi, Kabid Pengelolaan Kualitas Lingkungan DLH Papua yang diwawancarai wartawan mengatakan, ketertarikannya berkunjung ke Kabupaten OKI lantaran keberhasilan dari pengelolaan lahan gambut yang bernilai ekonomis tersebut.
"Walaupun jarak perjalanan yang jauh, dimana dari Bandara Jayapura -Jakarta memakan waktu 7 jam, lalu perjalanan Jakarta-Palembang 1 jam. Namun kita mendapat pelajaran yang berarti, banyak ilmu yang kita dapat bagaimana cara mengelola lahan gambut sehingga bernilai ekonomis," ungkapnya.
Selain itu, kata Iwan, pihaknya juga ingin mengetahui program apa yang sudah dilakukan BRG Sumsel, dalam mengantisipasi kebakaran lahan, sebab Palembang menjadi tuan rumah ajang Asian Games. 
"Jelas kondisi wilayah sangat berbeda dengan wilayah Indonesia Timur, disana faktor biaya untuk pengelolaan dan menuju ke lokasi lahan gambut cukup besar, karena untuk menempuh satu kabupaten ke kabupaten lainnya harus menggunakan pesawat. Itupun harus antrian tiket dulu selama tiga hari," ungkapnya.
Menurut Iwan, faktor lain juga menjadi kendala dalam pengelolaan lahan Gambut di Papua, yakni karakteristik masyarakat, masyarakat di Papua agak sulit menerima. "Menurut mereka, alam sudah menyediakan semuanya, jika ingin makan langsung menebang pohon sagu, ingin ikan tinggal memancing di sungai. Jadi lahan gambut disana setiap tahun terbakar dan tidak ada solusinya," terangnya.
Namun demikian, pihaknya tetap akan berusaha maksimal dalam mengelola lahan gambut dengan menerapkan ilmu yang telah didapat dari Balai Litbang LHK Palembang ini. "Tetap akan kita terapkan, walaupun sulit. Mungkin kami disana bisa menerapkan budidaya perikanan di lokasi gambut, beternak kerbau dan lainnya," ucapnya optimis.
Sementara itu, Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Tabroni mengaku pihaknya terus berupaya mengembangkan pengelolaan lahan gambut dengan berbagai program baik budidaya perkebunan, perikanan dan pertanian. 
"Ya semua harus kita coba, namun menyesuaikan kondisi di lapangan. Pola yang kita terapkan yakni Wana Mina Tani, yakni di satu lokasi kita usahakan budidaya perikanan, perkebunan dan pertanian," tandasnya
Tags
Berita OKI
Editor: Mochamad Krisnariansyah
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved