Berita Lahat

Debu dari Angkutan Batubara Buat Air Sumur Warga Desa Arahan Lahat Menghitam

Sampelnya sudah kita ambil seperti halnya air sumur warga. Nah sampel ini akan kita cek ke laboraturium sehingga diketahui

Debu dari Angkutan Batubara Buat Air Sumur Warga Desa Arahan Lahat Menghitam
Sripo/ Ehdi Amin
Pegawai DLH Lahat saat mengambil sampel air sumur warga yang diduga tercemar debu batubara yang melakukan bongkar muat di stasiun Banjar Sari, Kamis (2/8/2018) 

TRIBUNSUMSEL.COM, LAHAT-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Lahat, mengambil sampel air sumur warga Desa Arahan, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

Kegiatan itu merupakan tindaklanjut dari laporan warga yang mengeluh air sumur menghitam diduga kena debu batubara. Tak hanya air, tanah dan udara juga dicek.

"Sampelnya sudah kita ambil seperti halnya air sumur warga. Nah sampel ini akan kita cek ke laboraturium sehingga diketahui apakah benar itu dampak debu batubara tersebut, ujar Kepala DLH Lahat, Ir H Misri MT, melalui Kabid Penataan dan Penaatan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lepi Desmianti ST MT, Kamis (2/7).

Baca: Sumur Kering, Warga BP Peliung OKU Timur Pakai Air Sungai Komering untuk Makan dan Minum

Meski sampel tersebut masih dalam tahap pemeriksaan, Lepi meminta kendaraan angkutan batubara yang keluar dibersihkan, bila perlu bannya disemprot air.

Diungkapkanya, air sumur warga yang menghitam ini disinyalir tercemar batubara yang diangkut kendaraan saat menuju stokfile dan tempat bongkar muat di Stasiun Banjarsari.

Untuk itu Lepi menekankan pada perusahaan agar angkutan batubara yang keluar stokfile dibersihkan terlebih dahulu.

"Sisa batubara yang tercecer dipinggir jalan, juga harus diambil dan dimasukkan dalam karung. Karena secara kasat mata saja, dampak debu dikiri kanan jalan dekat stasiun sudah sangat terlihat,"kata Lepi.

Baca: Sehari 3 Kali Kecelakaan, Hati-hati Melintas Sepanjang Jalan Simpang Mbacang-Kerinjing Pagaralam

Sementara itu, setidaknya ada empat perusahaan yang melakukan bongkar muat di stasiun Banjar Sari yakni PT. RUBS, PT. KALOG, PT. BME dan PT. GGB. Sebelumnya, ratusan ibu rumah tangga desa setempat sempat melakukan aksi protes adanya kondisi tersebut.

Perwakilan PT RUPS, Punguan Manurung menjelaskan, pihaknya telah menyediakan alat pembersih sisa batubara dengan menggunakan sapu, kemudian juga disemprot ban-ban mobil dengan steam. "Untuk dijalan, kita juga menurunkan mobil tangki penyiraman, termasuk 13 tukang sapu dari simpang rapen," ujarnya. Cr22

Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved