Asian Games 2018

Lely Sampoerno, Ratu Menembak Asia Pertama Asal Indonesia

Cabang olahraga menembak di Indonesia memang tak sepopuler sepakbola maupun bulutangkis.

Lely Sampoerno, Ratu Menembak Asia Pertama Asal Indonesia
TRIBUNSUMSEL.COM/AGUNG DWIPAYANA
Lely Sampoerno, penembak putri pertama di Asia pada tahun 1960-an 

TRIBUNSUMSEL.COM-Cabang olahraga menembak di Indonesia memang tak sepopuler sepakbola maupun bulutangkis. Hanya sedikit orang yang tertarik dengan cabang olahraga ini. Prestasi cabang olahraga menembak saat ini pun masih terus dipacu. Tapi siapa sangka jika Indonesia pernah melahirkan atlet menembak yang sangat disegani dunia.

Adalah Lely Sampoerno, penembak putri pertama di Asia pada tahun 1960-an. Pemilik nama asli Lely Koentratih ini awalnya adalah guru Sekolah Dasar (SD). Dua tahun menjadi guru, Lely kemudian dipersunting oleh Setyo Sampoerno, seorang Letnan Angkatan Udara. Pernikahannya dengan Setyo Sampoerno membuat Lely aktif dalam kegiatan persatuan istri Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), khususnya dalam bidang olahraga menembak.

Awalnya Lely sangat terkejut mendengar letusan keras, tapi keikutsertaanya dengan suami dalam aktivitas menembak membawa ketertarikan tersendiri bagi wanita kelahiran Sukabumi, 2 Desember 1935 ini. Ia kemudian rutin berlatih menembak dan terus mengasah bidikannya.

“Awalnya takut (mendengar letusan senapan). Tapi lama-kelamaan terbiasa, dipaksakan saja,” kata Lely kepada TRIBUN, Rabu (11/7/2018).

Wanita berusia 82 tahun ini mengisahkan, terbiasa dengan aktivitas olahraga menembak ternyata mengantarkannya meraih kemenangan dalam suatu kejuaraan menembak antar institusi TNI dan Polri di tahun 1960.

Karena bakat dan prestasinya itu, Lely dikirim sebagai wakil tuan rumah Indonesia pada Asian Games 1962. Ia menjadi atlet tembak putri pertama pada ajang tersebut. Keikutsertaannya sempat diprotes negara lain, tapi ia tetap bisa bertanding melawan para atlet putra karena saat itu belum ada aturan pemisahan atlet putra dan putri.

“Ketika satu-satunya atlet penembak wanita hanya saya dari Indonesia. Dari negara lain laki-laki semua. Kontingen menembak dari beberapa negara sempat protes, mungkin karena ketika itu dipengaruhi isu kesetaraan gender juga ya,” katanya mengisahkan.

“Memang ketika itu atlet perempuan masih jarang. Tapi ternyata saya ketika itu berhasil meraih medali perak, unggul melawan sebagian besar atlet putra,” imbuhnya.

Semakin lama prestasi Lely semakin moncer. Ia berhasil menjadi penembak putri terbaik di kejuaran Asia pada tahun 1983. Kemenangannya di berbagai kompetisi menembak dunia akhirnya menempatkannya sebagai atlet menembak peringkat 12 dunia.

Ada 12 medali emas dan tujuh medali perak yang ia raih selama keikutsertaan tujuh kali di Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai tahun 1961 hingga 1985. Selain itu, Lely juga meraih 8 medali emas dan 5 medali perak pada South East Asia Shooting Association (SEASA) sejak tahun 1968 hingga 1983.

Halaman
12
Penulis: Agung Dwipayana
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help