Berita Muratara

Raih Gelar Sarjana, Warga Desa Pauh Muratara Bayar Nazar dengan Cara Mandi Darah Kerbau

Nazar adalah sebuah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai.

Raih Gelar Sarjana, Warga Desa Pauh Muratara Bayar Nazar dengan Cara Mandi Darah Kerbau
Google
Ilustrasi Mandi 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Farlin Addian

TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA - Nazar adalah sebuah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai.

Nazar merupakan bagian dari bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca: Kota Palembang Tertutup Kabut, Begini Penjelasan BMKG Hingga Status Bandara SMB II !

Biasanya orang bernazar berupa puasa sekian hari, atau menggelar yasinan bersama atau mengkhatamkan bacaan Al-Quran, atau bersedekah kepada pihak tertentu, dan lain sebagainya.

Namun, berbeda bagi keluarga Hj Marhana (70) dan almarhum suaminya.

Warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini justru memiliki nazar yang tidak lazim.

Baca: Wacana PSU di Palembang, Tim Advokasi HDMY : Mengada-ngada dan Tanpa Dasar

Yakni, jika anak atau cucunya dapat menyelesaikan pendidikan jenjang perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana maka sebagai nazarnya dimandikan dengan darah kerbau.

Hj Marhana (70) menjelaskan, nazar memandikan anak dan cucunya dengan darah kerbau ini sudah ia lakukan kepada ketiga anak dan dua cucunya yang telah berhasil menyandang gelar sarjana.

"Jadi, ini sudah menjadi tradisi di keluarga kami, tapi khusus keluarga kami, bukan tradisi kampung. Nah, sampai hari ini, tiga anak saya dan dua cucu saya yang sarjana sudah mandi darah Kerbau," ungkapnya.

Baca: Hasil Pengumuman SBMPTN 2018 UNSRI, Cek Link Langsung Disini !

Setiap ada anak atau cucunya yang lulus kuliah, Marhana selalu menyembelih seekor Kerbau peliharaannya untuk dimakan bersama-sama keluarga dan tetangganya karena keluarga ini memiliki banyak ternak Kerbau.

"Ya, kalau ada yang lulus kuliah, kami syukuran, menyembelih Kerbau, dagingnya untuk dimakan, nah darahnya untuk dimandikan kepada yang baru lulus kuliah tadi," bebernya.

Sementara, Riki Hendar (24), salah seorang cucu Marhana yang baru saja mendapat gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi terpaksa harus menuruti nazar dari kakek dan neneknya.

Saat ditanya bagaimana rasanya mandi darah Kerbau, Riki mengungkapkan, mandi darah tentu sangat berbeda dengan mandi menggunakan air bersih pada umumnya karena darah Kerbau mengeluarkan bau tak sedap.

Baca: BREAKING NEWS : Bus AKAP Tabrakan Beruntun di Betung Banyuasin, Dikabarkan 7 Orang jadi Korban

"Darah Kerbau itu sangat amis, saya saja hampir mau muntah, karena saya tidak tahan dengan baunya. Tapi tidak masalah, karena ini nazar kakek dan nenek saya, jadi harus dituruti," imbuhnya.

Penulis: Farlin Addian
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help