Berita Muaraenim

Muaraenim produksi 25.200 Ton Kopi Per Tahun

Kabupaten Muaraenim setiap tahunnya memproduksi sebanyak 25.200 ton kopi dengan jenis Robusta dan Arabika, Senin (24/6).

Muaraenim produksi 25.200 Ton Kopi Per Tahun
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi kopi. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com,Ika Anggraeni

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARAENIM - Kabupaten Muaraenim setiap tahunnya memproduksi sebanyak 25.200 ton kopi dengan jenis Robusta dan Arabika, Senin (24/6).

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muaraenim,Mat Kasrun saat ditemui Tribunsumsel.com disela-sela kesibukannya.

Dikatakan Mat kasrun, tingkat keberhasilan dalam memproduksi kopi sangat bergantung pada kondisi cuaca.

"Dimana kondisi cuaca harus stabil, kalau terlalu banyak dilanda hujan atau kemarau tentu akan berpengaruh pada bunga kopi yang baru muncul, itu bisa gugur dan jika itu terjadi maka produksi kopi bisa berkurang, Dan itu pernah terjadi saat Muaraenim dilanda kemarau panjang beberapa waktu yang lalu," jelasnya.

Dikatakan Mat Kasrun, ia juga mengatakan dari dua jenis kopi yang ada di Muaraenim sebagian besar adalah kopi robusta.

"Untuk Lahannya jenis robusta kita ada sekitar 23 ribu hektar dan untuk arabika saat ini ada sekitar 600 hektar, dan untuk arabika ini saat ini kita sedang melakukan percobaan dengan cara konversi arabika ke robusta dan jika berhasil akan menghasilkan kopi arabika yang kualitasnya sangat baik dan harganya juga tentu lebih mahal dibanding robusta," katanya.

Ia juga menjelaskan untuk program konversi ini pihaknya melakukan percobaan di beberapa wilayah di Semende.

"Diantaranya di desa Segamit, Cahaya Alam, Rekimai dan datar lebar, disetiap desa tersebut kita manfaatkan lahan percontohan sekitar satu hektar, dan yang melaksanakan konversi ini langsung dari puslit dan program ini adalah kerja sama pemkab Muaraenim dan Bank Indonesia," jelasnya.

Ia juga mengatakan jika program ini berhasil tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani kopi.

" apalagi jika nantinya ada perusahaan kopi di sumsel sehingga kopi-kopi kita yang sebagian besar sering di jual ke Lampung dapat di kelolah sendiri di Sumsel, karena kondisinya saat ini pengolahan kopi semende di sumsel tidak sampai 20 persen dari jumlah produksi," katanya.

Selain itu lanjutnya jika program konversi tersebut berhasil maka para petani akan dilatih dan stek kopi yang di hasilkan dapat di jual untuk dijadikan bibit kopi arabika.

Penulis: Ika Anggraeni
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved