Fenomena Oposisi Asal Nyolot

Anehnya penyebaran hoax tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam, tapi oleh beberapa anggota dewan yang terhormat.

Fenomena Oposisi Asal Nyolot
kompas.com
Gedung DPR/MPR 

Oleh:
A. Wisginanjarsih
Politikus dan Peminat Masalah Politik Tinggal di Palembang

A Wisginanjarsih
A Wisginanjarsih (ISTIMEWA)

SEMENJAK pemilu legislatif tahun 2014 pola perpolitikan di Indonesia berubah drastis. Gedung DPR kemudian dihuni oleh para anggota yang datang dari berbagai latar belakang profesi serta kepentingan yang beraneka ragam membuat politik terasa “lebih panas” dari tahun-tahun sebelumnya. Ditambah dengan era keterbukaan informasi serta munculnya generasi muda baru (milenial) yang lebih kritis sekaligus semakin apatis terhadap politik, seolah-olah menjadikan situasi lebih berwarna dan dinamis.

Namun diantara hal-hal positif akan keterbukaan informasi, tentu ada juga dampak negatifnya. Terdapatnya kemudahan mengakses sosial media yang kemudian digunakan sebagian orang untuk menggapai kepentingan diri dan golongan dengan menggunakan berita atau gosip yang tidak benar tapi bombastis dan menarik untuk dibaca, disebarkan tanpa mengecek kebenaran berita. Hal ini sangatlah berbahaya. Dan anehnya penyebaran hoax tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam, tapi juga dilakukan oleh beberapa anggota dewan yang terhormat yang seharusnya menjadi panutan.

Mari kita lihat komentar soal isu yang berkaitan dengan negara dan pemerintah yang dilontarkan oleh beberapa anggota DPR seperti Fahri Hamzah ataupun Fadli Zon. Ada suatu waktu mereka membuat tweet tentang berita yang setelah dicek ternyata tidak bisa dipercaya sumbernya. Apakah mereka kemudian memberikan klarifikasi? Ternyata tidak.

Oposisi di Indonesia saat ini sudah melenceng dari tugasnya untuk memberikan kritik membangun kepada pemerintah. Terlalu banyak statement yang menjurus kepada fitnah dan penghinaan bertujuan menjatuhkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terutama kepada Presiden Jokowi. Bahkan pada banyak kesempatan serangan sudah mengarah ke ranah pribadi.

Yang paling terkini muncul komentar tentang “Mudik seperti di neraka” versi Habiburohman, seorang politisi dari Partai Gerindra. Mengeluh mengenai betapa macet dan susahnya mudik saat lebaran kemarin, padahal kemudian diketahui bahwa politisi ini mudik dengan pesawat terbang. Tentu saja tidak ada pesawat mengalami macet lalu lintas di udara.

Hal-hal yang mengarah pada pembelokan dan pembentukan opini publik yang salah dan merugikan pemerintah. Walau kemudian keluhan sang politisi oposisi ini dibantah oleh para netizen, tapi daya rusaknya tentu tetap ada. Seperti mencabut sebuah paku yang ditancapkan ke kayu, pakunya tidak ada lagi tapi lubang bekas paku tetaplah ada. Analogi ini sangat tepat menggambarkan apa yang dilakukan oleh Habiburohman.

Dan ternyata oposisi terbesar di Indonesia yaitu Prabowo pun telah melakukan hal yang sama. Mengkritisi pemerintah tidak berdasarkan data yang benar. Bahkan penulis lebih menilai kritikan tersebut sebagai fitnah. Mengatakan bahwa pembangunan LRT di Palembang lebih mahal dari seharusnya. Diungkapkan oleh Prabowo telah terjadi mark up yang luar biasa dalam proses pembangunan LRT tersebut. Tapi setelah dicek ternyata data Prabowo adalah salah dan tidak kredibel. Lagi-lagi oposisi melakukan blunder dan mencoreng muka sendiri.

Tokoh politikus sekelas Prabowo ternyata mengkritisi pemerintah tidak berdasarkan data yang bisa dipercaya. Seperti tong kosong nyaring bunyinya. Lagi-lagi, oposisi telah menancapkan paku ke kayu. Meskipun dicabut tapi kerusakan telah terjadi.

Asal Bicara
Sebenarnya melemparkan kritik yang tidak berdasarkan data maka cepat atau lambat akan ketahuan oleh masyarakat yang telah mendapatkan akses ke informasi yang begitu luas. Bagi masyarakat yang cerdas, mereka akan mengecek kebenaran berita yang datang dari seseorang, sehingga apabila ternyata data yang digunakan untuk mengkritisi pemerintah itu tidak benar, tentu akan merugikan pihak oposisi sendiri. Yang terjadi kemudian adalah bully yang diarahkan ke media sosial para oposisi.

Halaman
12
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved