Berita Palembang

Restorasi Hutan Bisa Bangkitkan Perekonomian

Restorasi bentang lahan menjadi sebuah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi dan meningkatkan kesejahteraan manusia yang

Restorasi Hutan Bisa Bangkitkan Perekonomian
TRIBUNSUMSEL.COM/M ARDIANSYAH
Pemateri dalam lokakarya Menuju Restorasi Bentang Lahan Berkelanjutan di Sumsel, Kamis (19/4/2018). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Restorasi bentang lahan menjadi sebuah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi dan meningkatkan kesejahteraan manusia yang berada pada lahan yang mengalami deforestasi dan degradasi.

Restorasi berkaitan erat dengan berbagai kebijakan nasional terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Pada tingkat global, komitmen untuk melakukan restorasi terwujud dalam kerangka Bonn Challenge sebagai tantangan global untuk merestorasi 150 juta hutan dan lahan terdegradasi sebelum tahun 2020.

Di Sumsel sendiri, restorasi hutan dan bentang lahan merupakan bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi hijau yang sudah dicanangkan melalui Peraturan Gubernur Sumatera Selatan nomor 21/2017 tentang Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Provinsi Sumatera Selatan.

Kegiatan RESTORE+, konsorsium yang terdiri dari World Agroforestry Center (ICRAF), WRI Indonesia, WWF Indonesia dan diprakarsai International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA), melaksanakan Lokarya Menuju Restorasi Bentang Lahan Berkelanjutan di Sumsel.

“Mari Satukan komitmen, pemikiran, moral dan daya untuk konservasi, restorasi dan rehabilitasi hutan untuk anak cucu dan nenek moyang dengan sumpah Talang Tuwo” ujar Pimpinan Dewan Pertumbuhan Hijau dan Koordinator Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumselatera Najib Asmani, Kamis (19/4/2018).

Kegiatan RESTORE+, menghubungkan pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan restorasi di tingkat tapak dengan kajian ilmiah yang dapat berkontribusi pada proses perumusan kebijakan di tingkat nasional dan global. Untuk mencapai tujuan tersebut, informasi dari kegiatan di tingkat tapak yang bersifat partisipatif namun terpisah dihimpun dengan menggunakan pendekatan urun daya atau crowdsourcing.

Salah satu peneliti dari ICRAF Andree Ekadinata menyampaikan pendekatan urun daya ini bermaksud mengintisarikan aspirasi masyarakat luas dan pemangku kepentingan serta berkontribusi untuk pemantauan dan evaluasi.

“Nantinya informasi yang didapatkan akan digunakan dalam melakukan kajian ilmiah, pemodelan kebijakan restorasi. Kajian terkait diharapkan menghasilkan berbagai skenario kebijakan restorasi yang mempertimbangkan dampak lintas sektor seperti kesejahteraan masyarakat setempat, pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, penyediaan energi dan perlindungan keanekaragaman hayati," katanya.

Sedangkan peneilti dari WRI Indonesia Satrio Wicaksono menyampaikan, sangat perlu untuk menjadikan restorasi ini sebagai sebuah gerakan

“Diperlukan inovasi ristek untuk mendukung keberhasilan restorasi, misalnya dengan metode urun daya atau crowdsourcing yang saat ini akan dibangun melalui Restore+,” ungkapnya.

Penulis: M. Ardiansyah
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help