Berita Musirawas

Dua Kebudayaan Asli Mura, Dialek Sindang dan Adat istiadat Nyaris Punah

Dua kebudayaan asli Kabupaten Musi Rawas (Mura), yakni dialek Sindang dan Manuskrip terancam punah

Dua Kebudayaan Asli Mura, Dialek Sindang dan Adat istiadat Nyaris Punah
tribunsumsel.com/Eko Hepronis
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Mura Hamam Santoso. 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis.

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS -- Dua kebudayaan asli Kabupaten Musi Rawas (Mura), yakni dialek Sindang dan Manuskrip terancam punah.

Hal itu disebabkan karena dua kebudayaan itu mulai jarang digunakan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Mura, Amrullah melalui Kabid Kebudayaan Hamam Santoso mengaku jika banyak warga Mura yang sudah malu menggunakan bahasa daerah.

Apalagi menurutnya, Dinas Pendidikan tak pula turut melestarikan dialek Sindang.

"Alasannya karena malu pakai bahasa daerah. Dari Diknas memang tidak diajarkan, meskipun itu memang bahasa daerah," ungkapnya pada Tribun, Senin (17/4/2018).

Selain dialek Sindang, Disbudpar juga mengaku sudah sulit menemukan manuskrip, catatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Manuskrip yang masuk kategori kebudayaan Kabupaten Mura biasanya berupa catatan di daun lontar.

"Manuskrip ini tidak ada lagi yang menyimpannya, jadi kami khawatir kebudayaan ini juga hampir punah," katanya.

Ia menyebutkan, sesuai UU Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, tercatat ada 11 kebudayaan di Kabupaten Mura.

Selain dialek dan manuskrip, budaya lainnya di Mura meliputi adat istiadat, ritual, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, kesenian, permainan rakyat, olahraga traidiosional, dan cagar budaya.

"Seluruh aset budaya ini akan kita data dan inventarisir, lalu akan kita bawa ke Kongres Kebudayaan ke-100 di Solo, Jawa Tengah," ujarnya.

Pendataan dimulai bulan ini dengan melibatkan 15 orang yang terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh kebudayaan, dan tokoh adat. Menurutnya, pendataan ini sangat penting untuk mengetahui masih atau tidaknya kebudayaan tersebut di Kabupaten Mura.

"Dari 11 kebudayaan itu akan kita cek dan ditargetkan akhir Agustus sudah selesai. Setelah itu akan kita kirimkan ke Kemendikbud untuk didaftarkan," jelasnya.
Area lampiran

Penulis: Eko Hepronis
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved