Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya

Namun kini informasi beredar melalui berbagai media, melalui pesan singkat, media sosial, dan lain sebagainya.

Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya
ilustrasi hoax 

Lantaran bersumber dari ego, berita bohong dalam Islam menyeruak ke salah satu simpul terdalam agama: hadis.

Sejak 41 Hijriyah, berita bohong atas nama nabi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kuasa.

Ia menganiaya mazhab, ulama, pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim.

Sekadar gambarannya: dari 600 ribu hadis yang menampung Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya, dari 300 ribu yang butuh Imam Muslim, hanya 4000 yang dipilihnya, dari 500 ribu yang diterima Imam Abu Dawud hanya 4800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis yang menampung Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya. Lepas, sejak awal, Nabi telah bersabda,"Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka haruslah dia diaisi tempat duduknya di neraka."

 

Sebagian pembuat hadis palsu dijuluki "pembohong zuhud" . Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat beribadah. Namun saat digugat, mereka mengatakan telah berbohong bukan terhadap Nabi ('ala Nabi) , pelantikan untuk Nabi (li Nabi) dengan asas untuk kebaikan Islam. Ini sama seperti fenomena dalam beberapa tahun terakhir di kalangan umat Islam Indonesia, ketika mereka secara sadar menganiaya sesama muslim atau umat non muslim dengan berita-berita bohong atas dasar imajinasi dirinya "pembela Allah dan rasul-Nya".

Kesucian agama dari berita bohong sangat penting, utama, dan mendasar.

Untuk awal, Al-Quran dalam QS. Al-Hijr: 9 paksa apa yang difirmankan-Nya benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa.

Nabi diutus sebagai manusia suci (ma'shum) untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka berita bohong.

Tuhan sangat keras terhadap pembuat dan penyebar berita bohong: melaknat, menyebut tak beriman, dan garansi di neraka. Sebab, berita bohong dalam keberagamaan bukan satu-satunya kesucian agama batal, tapi juga paksa menerimanya meski bertentangan dengan akal.

Halaman
1234
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved