Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya

Namun kini informasi beredar melalui berbagai media, melalui pesan singkat, media sosial, dan lain sebagainya.

Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya
ilustrasi hoax 

Apalagi, agama memang kerap menjadi objek hoax.

Sebab, sensitifitas memang merupakan "isu paling seksi" untuk dijadikan legitimasi dan penggerak bagi arus hoax.

Terlebih di tengah euforia keberagamaan yang sangat tinggi di tingkat "kulit" saja, tanpa diimbangi oleh kedalaman dan keilmuan yang memadai.

Dalam sejarah Islam, berita bohong, fitnah, atau hoax itu catatan sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad.

Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar).

Saat itu, umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik jadi terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam.

Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam hal ini lantaran terprovokasi oleh berita bohong.

Perbedaan dalam teologi Islam awal yang terjadi atas dasar berita bohong penting melahirkan perpecahan, konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam.

Dengan fitnah, perbedaan tak lagi jadi "rahmat" terbit sabda Nabi, peluncur "bencana".

Hoax menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq) .

Halaman
1234
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help