Mutu Pembelajaran di Ruang-ruang Kelas Kita

Pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh faktor kualitas rencana pembelajaran, dialog dan kolaborasi.

Mutu Pembelajaran di Ruang-ruang Kelas Kita
TRIBUNSUMSEL.COM
Salah satu aktivitas belajar mengajar di kelas (ilustrasi) 

Guru harus memiliki kesadaran penuh bahwa membuat RPP adalah cara terbaik untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi anak.

Kualitas rancangan pembelajaran yang baik hanya akan dapat dilakukan oleh guru yang memiliki pemahaman utuh dan mendalam tentang materi pelajaran yang diampu (content knowledge), karakteristik anak (knowledge of learners), kurikulum yang digunakan (curriculum knowledge), kebijakan pendidikan (knowledge of educational contexts), pedagogik pembelajaran (pedagogical content knowledge and general pedagogical knowledge) (Lee Schulman, 2007).

RPP produk copy paste yang berkembang di kalangan guru menjadi bukti lemahnya pemahaman guru dalam mendesain suatu pembelajaran yang penuh makna.

Kedua, lewat perannya sebagai fasilitator, guru dapat memandu anak agar terlibat secara fisik dan mental (aktivitas berpikir) dalam proses pembelajaran.

Guru mengupayakan terjadinya proses dialog agar anak terlatih untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Dialog bukan hanya bermakna setiap anak berkomunikasi dengan anak lainnya, tetapi bisa juga seorang anak berpikir secara mendalam dan melakukan pengecekan ulang secara teliti terhadap langkah-langkah penyelesaian suatu tantangan atau masalah yang diberikan gurunya.

Dialog yang baik (self-dialogue) ditandai dengan hasil pemikiran anak yang asli, sahih, dan otentik. Jika guru konsisten membuka ruang kemungkinan terjadinya dialog dalam proses pembelajaran, keterampilan berpikir kritis dan kreatif anak dapat didayagunakan secara optimal.

Ketiga, guru perlu lebih peka memperhatikan tingkat kognisi dan emosi anak yang beragam. Kekeliruan terbesar yang dilakukan guru adalah kurang memperhatikan anak yang lambat belajarnya. Jika guru memberikan bimbingan secara individu pada beberapa anak yang lambat kemampuan belajarnya, hal ini tak realistis dilakukan dalam situasi pembelajaran dengan waktu yang terbatas. Langkah paling mungkin dilakukan adalah menerapkan pembelajaran kolaboratif.

Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran kolaboratif mendorong anak yang terlambat belajarnya tidak merasa rendah diri. Sebaliknya, anak dengan kecepatan dan pemahaman belajar yang baik dididik untuk tak tinggi hati dan bersedia membantu anak lainnya yang mengalami kesulitan belajar. Anak yang lambat belajar memiliki hak untuk dibantu oleh anak dengan pemahaman belajarnya yang baik. Sebaliknya, anak yang sudah memahami konten materi wajib membantu temannya yang masih mengalami kesulitan memahami apa yang sedang diajarkan.

Pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan terjadinya situasi pengalaman berbagi pengetahuan di antara sesama pembelajar. Dengan cara ini, anak dilatih untuk saling berempati dengan kesulitan belajar yang dihadapi teman lainnya.

Halaman
123
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved