Jangan Cari Untung di Lahan Gambut

Disinilah penting memahami bahwa lahan gambut adalah lahan yang sensitif. Ibarat bayi, ia harus dijaga, dipelihara.

Jangan Cari Untung di Lahan Gambut
istimewa
Anggota TNI berjibaku memadamkan lahan gambut yang terbakar (ilustrasi) 

Sejarah para nenek moyang, leluhur, sejarah para pembuka lahan, dibuka kembali. Semua demi perebutan kawasan yang sebelumnya tak tersentuh dengan baik.

Data menunjukkan bahwa luas lahan gambut di wilayah Sumsel mencapai 1,4 juta hektar yang terbagi atas gambut dalam dan dangkal. Lahan ini tersebar di beberapa kabupaten seperti OKI, Muba, OI, dan Banyuasin. Hampir semua kawasan tersebut, dalam beberapa tahun terakhir “bermasalah”, baik konflik kepemilikan lahan, ataupun masalah kebakaran.

Dua-duanya punya ekses negatif yang sulit mengurainya. Konflik kepemilikan lahan biasanya diselesaikan lewat jalur legal ataupun mediasi, tetapi soal kebakaran lahan ini tak sederhana. Efeknya luas dan solusinya juga rumit.

Satu hal yang jadi catatan penting, kawasan gambut sekarang bukan lagi daerah tak bertuan, daerah yang tak punya nilai apa-apa.

Semua punya kepentingan di wilayah itu, mulai dari masyarakat umum yang hanya punya lahan terbatas, pemilik modal yang mampu beli lahan luas, beberapa terindikasi adalah orang penting di provinsi ini, hingga perusahaan besar yang mampu beli lahan sejauh mata memandang. Harga jual tanah meroket naik, seiring nilai ekonomi yang makin tinggi.

Itulah yang terjadi, dan pada akhirnya lahan gambut diobok-obok, kering dan kemudian menjadi sumber api. Disinilah pula masalah terjadi, manusia yang seharusnya menjadi penjinak,aparatur sebagai pembina dan pengawas agar tak ada api, khawatirnya justru jadi pemantik atau malah korek api. Tahun 2015 lalu, lahan gambut seluas 426.863 Ha terbakar, seluas 309.724 ha berada di lahan konsesi. Total semua kawasan terbakar mencapai 736.587 ha. “Prestasi” yang luar biasa, dan sibuklah semua unsur menyikapi ini.

TNI Siap Siaga

Terhadap kondisi itu, maka TNI sebagai sebuah kesatuan yang harus selalu siap siaga terhadap segala persoalan di masyarakat, harus bertindak. Sarana prasarana dan kreatifitas dikerahkan.

Pencegahan dan penindakan dilakukan, semua unit dari level atas hingga ke Babinsa dikerahkan. Kerjasama dibuat, produk diciptakan, dan gerak cepat dilakukan. Taruhannya adalah kesejahteraan masyarakat banyak dan nama baik bangsa. Aspek pertahanan keamanan tersentuh langsung, karena itu TNI harus bergerak.

Memperlakukan karhutla tidak akan bisa hanya pada sisi pemadaman saja. Itu gerak yang terlambat. Anda ingin menang perang? Menanglah sebelum mulai, artinya kemampuan mencegah perang terjadi, adalah sebuah prestasi luar biasa.

Halaman
1234
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help