Bangsa Besar adalah Bangsa Suprarasional

Penulis sangat fasih memberikan ilustrasi adanya masalah cara berpikir manusia Indonesia dalam menjalani kehidupan.

Bangsa Besar adalah Bangsa Suprarasional
TRIBUNSUMSEL.COM
Buku best seller Cara Berpikir Suprarasional karya Raden Ridwan Hasan Saputra 

Namun seiring berjalannya waktu, bangsa Indonesia didera persoalan besar. Masyarakat Indonesia cenderung menanggalkan cara berpikir suprarasional dalam kehidupan. Pemimpin tak bervisi. Politisi dan penegak hukum korup. Cendekiawan menggadaikan integritas. Pebisnis tamak.

Penulis sangat fasih memberikan ilustrasi adanya masalah cara berpikir manusia Indonesia dalam menjalani kehidupan. Mengapa bantuan modal usaha dari pemerintah tidak berhasil memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat?

Mengapa ada orang pintar tetapi tidak sukses? Mengapa ada sarjana yang menganggur? Mengapa banyak pejabat yang korupsi? Mengapa semakin banyak sekolah berdiri, semakin banyak lulusan yang tak terdidik? Jawabnya, karena kita salah memilih majikan. Kita menjadikan kekayaan, jabatan, kekuasaan, popularitas menjadi tuan kita. Saat tuan berubah menjadi Tuhan baru bagi masyarakat Indonesia, masalah datang silih berganti dan entah kapan bisa diakhiri.

Menjadikan Allah atau Tuhan sebagai majikan adalah pilihan cerdas bagi seseorang atau suatu bangsa. Hanya orang suprarasional yang mau dan mampu melakukannya. Dalam hidupnya, karyawan Allah atau Tuhan akan mengalami kondisi berkecukupan atau berkelimpahan (hlm. 15).

Asep Sapa'at (kiri)
Asep Sapa'at (kiri) (ISTIMEWA)

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya...” Pesan di lagu Indonesia Raya sangat jelas dan tegas. Bangsa Indonesia harus membangun jiwa dan raga secara seimbang. Pemerintah harus menyadari dan aktif mengembangkan program pemenuhan kebutuhan raga—pangan, sandang, papan--dan kebutuhan jiwa masyarakat Indonesia. Dalam bukunya, penulis menyebutkan kebutuhan raga menghasilkan tabungan raga (uang) dan kebutuhan jiwa menghasilkan tabungan jiwa (pahala).

Tabungan raga bersifat terbatas. Contoh, jika kita ingin membeli sepeda motor senilai Rp 15.000.000,00 dan kita memiliki uang Rp 16.000.000,00, kita bisa memiliki sepeda motor tersebut. Sebaliknya, jika kita memiliki uang kurang dari Rp 15.000.000,00, otomatis kita tak bisa membeli sepeda motor tersebut.

Lain halnya ketika kita bicara tabungan jiwa. Saat seseorang terlahir dari keluarga miskin, dia masih punya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Saat dia rajin beribadah kepada Tuhan, semangat menuntut ilmu, hormat pada guru, menolong orang lain yang sedang membutuhkan, maka semua kebaikan yang dilakukan bisa menghasilkan tabungan jiwa.

Tabungan jiwa bisa dikonversi dalam bentuk harta, ilmu, keberhasilan hidup, dan sebagainya. Tegasnya, orang yang memiliki surplus tabungan jiwa karena keikhlasan dalam berbuat kebaikan, niscaya dia akan mendapatkan apa pun yang diharapkannya. Tabungan jiwa tidak hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan nonmateri (rumah tangga harmonis, anak-anak pintar dan saleh, para pejabat jujur, para pemimpin berlaku adil, rakyat sejahtera, bangsa beradab, dan sebagainya).

Indonesia terus meniti jalan takdirnya menjadi sebuah bangsa. Bangsa yang gemah ripah loh jinawi tetapi punya utang. Bangsa yang berlimpah sumber daya alam namun masyarakatnya miskin. Anomali.

Bangsa Indonesia harus hijrah menjadi bangsa suprarasional. Pemimpin bangsanya kompeten dan visioner. Politisinya berkarakter negarawan. Penegak hukumnya berintegritas. Cendekiawannya jujur. Para pengusahanya bertanggung jawab dan tidak serakah.

Halaman
123
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved