Polemik Harga Beras, Akankah Tikus Mati di Lumbung Padi?

Polemik harga beras,entah kapan negeri ini akan berdaulat atas pangan kalau setiap permasalahan diselesaikan dengan impor

Polemik Harga Beras, Akankah Tikus Mati di Lumbung Padi?
TRIBUNSUMSEL.COM
MENGAYAK - Seorang sedang mengayak beras di pasar Sekanak Palembang, beberapa waktu lalu 

Secara teoritis, melonjaknya harga suatu komoditas mengindikasikan terganggunya sistem penawaran (supply) dan permintaan (demand). Bila terjadi penyumbatan penawaran maka stok barang menipis dan menjadi komoditas “langka” yang berdampak pada peningkatan harga.

Inilah mekanistik hukum ekonomi sederhana yang “sedikit menafihkan” faktor lainnya seperti kesenjangan harga domestik dan internasional (seperti penulis sitir sebelumnya) yang dapat mendorong hasrat untuk meng-impor beras karena selisih harga yang terpaut jauh.

Kekhawatiran pemerintah akan dampak melambungnya harga beras bukanlah tidak beralasan. Data BPS tahun 2017 menunjukkan bahwa beras berpengaruh terhadap inflasi sebesar 0,08%, tinggginya tinggkat inflasi akan mengerus ke daya beli masyarakat.

Melemahnya daya beli masyarakat akan berujung pada meningkatnya angka kemiskinan, oleh karena itu diperlukan solusinya.

Impor sebagai solusi?
Munculnya keingginan melakukan impor adalah sebagai upaya meredam gejolak harga beras karena akan menimbulkan ketidakpastian (uncertainty) yang dapat medorong harga semakin melejit. Meskipun dianggap tidak populer pemerintah akhirnya memutuskan melakukan impor beras dari Thailand dan Vietnam untuk menambah pasokan beras di pasaran.

Disadari kebijakan impor bukanlah hal yang tabu dalam sebuah perekonomian terbuka asalkan momentumnya tepat. Mencermati data publikasi BPS, memang sejak 5 tahun terakhir Indonesia masih melakukan impor beras, simak saja data tahun 2013, impor beras sebanyak 472,66 ribu ton dan dua tahun kemudian sebanyak 844,16 ribu ton, selanjutnya di tahun 2017 (311,52 ribu ton).

Ada pihak menyayangkan sikap pemerintah tersebut karena meyakini dibalik kebijakan impor yang telah diputuskan pemerintah akan ada jeritan petani sebulan atau dua bulan kedepan.

Hal ini dapat dipahami pada bulan-bulan ke depan sebagain petani akan panen raya sehingga kekhawatiran harga beras akan anjlok. Kalau demikian benarkah impor merupakan suatu solusi bagi kelangkaan pangan?

Penutup
Polemik harga beras masih selalu menghantui republik ini dan entah kapan negeri ini akan berdaulat atas pangan kalau setiap permasalahan diselesaikan dengan impor.

Untuk itu, diperlukan komitmen yang kuat dan utuh membongkar akar permasalahan beras. Dalam berbagai kesempatan lembaga pemerintah yang “mengurusi” pangan menyakinkan bahwa negara ini mengalami surplus beras.

Halaman
123
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help