Polemik Harga Beras, Akankah Tikus Mati di Lumbung Padi?

Polemik harga beras,entah kapan negeri ini akan berdaulat atas pangan kalau setiap permasalahan diselesaikan dengan impor

Polemik Harga Beras, Akankah Tikus Mati di Lumbung Padi?
TRIBUNSUMSEL.COM
MENGAYAK - Seorang sedang mengayak beras di pasar Sekanak Palembang, beberapa waktu lalu 

Oleh : Sukanto
• Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Unsri
• Kandidat Doktor Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan IPB

Sukanto SE, MSi, Dosen Ekonomi Unsri
Sukanto SE, MSi, Dosen Ekonomi Unsri (ISTIMEWA)

TAHUN 1984, tahun ini bagi penulis merupakan tahun sakral karena Indonesia tercinta dianugrahai FAO (badan pangan dunia) atas prestasi swasembada beras.

Dikala itu, sektor pertanian menunjukkan kedigdayaannya. Di pelosok daerah kegiatan pertanian begitu bergairah, para penyuluh pertanian hilir mudik berbagi ilmunya demi peningkatan produksi pangan terutama padi.

Petani “diladang” masih mau menanam padi sehingga masif dijumpai petani yang menanam padi diladang atau dikenal dengan dengan padi talang sehingga dikampung-kampung tidak banyak yang membeli beras karena memiliki lumbung padi, pada masa ini kekhawatiran petuah lama “tikus mati dilumbung padi tidak pernah terbesit”.

Seiring waktu seolah terlena dengan prestasi yang telah diraih, kata “swasembada” dan keinginan untuk menanam padi di talang menghilang bak ditelan bumi.

Walau disadari, setelah pemimpin negeri silih berganti keinginan untuk mengulang masa itu masih kuat dirasakan dan bahkan dekade terakhir muncul hasrat bukan saja swasembada tetapi menjelma menjadi kedaulatan pangan.

Isu “perberasan” kembali menghangat belakangan ini namun bukan mengenai swasembadanya melainkan harga beras yang melambung tinggi. Hampir semua media menyoroti merangkaknya harga beras yang sudah melewati Harga Eceran Tertinggi (HET) yaitu Rp 9.450 per kilogram.

Ini bukanlah fenomena pertama kali terjadi di negara agraris yang memiliki luas daratan 4 kali lipat wilayah negara Thailand. Walaupun negeri ini memiliki luasan yang belipat namun produktivitas beras negara ini belum sebanding dengan negara gajah tersebut.

Masih membekas dalam ingatan, pada tahun 2015 hal serupa pun menjadi polemik yang menharuskan Wapres turun tangan untuk mengatasinya. Kejadian yang terualang ini memunculkan besit dihati, masih mungkinkah swasembada dan kedaulatan pangan akan terwujud?

Kegalauan ini bertambah menjadi-jadi dikala kita disuguhkan data bahwa harga beras di Bumi Mutumanikam tercinta ini jauh lebih mahal dari negara penghasil beras sesama kawasan ASEAN. Berdasarkan data FAO (2017) harga beras di Indonesia relatif lebih tinggi yaitu sebesar 10 ribuan rupiah per kg (US$ 0,76 per kg) bila dibandingkan dengan Vietnam (US$ 0,31 per kg) dan Thailand (US$ 0,34 per kg) atau bila dirupiahkan harga beras di kedua negara tersebut berkisar 5 ribuan per kg.

Halaman
123
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help