Kisah Bung Karno dan Hatta yang Jarang Masuk Masjid

Gambar mereka diabadikan di dalam uang pecahan terbesar rupiah. Nama mereka juga dijadikan nama bandara, jalan, universitas, gedung, dan lainnya.

Kisah Bung Karno dan Hatta yang Jarang Masuk Masjid
Google.com
Mata uang rupiah seratus ribu dan seribu

TRIBUNSUMSEL.COM, -- Soekarno dan Mohammad Hatta adalah Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Kiprah dan sepak terjangnya dalam memerdekakan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Nyawa, darah, dan air matanya menjadi tebusan dalam memperjuangkan tegaknya bendera merah putih.

Hingga akhirnya republik ini merdeka, dan mereka berdua dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi bangsa ini. Itu semua karena jasa-jasa dan kemampuan mereka dalam menggerakkan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Gambar mereka diabadikan di dalam uang pecahan terbesar rupiah. Nama mereka juga dijadikan nama bandara, jalan, universitas, gedung, dan lainnya.

Mereka berdua juga dikenal sebagai pribadi Muslim yang taat dalam menjalankan ajaran agamanya. Mereka rajin menunaikan kewajiban-kewajiban agama di dalam rukun Islam; salat, zakat, puasa, dan haji.

Namun demikian, mungkin hanya sedikit orang saja yang tahu soal cerita Soekarno dan Mohammad Hatta yang jarang masuk masjid.

Wakil Sekretaris Lembaga Ta'mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) H Muiz Ali Murtadho menceritakan hal itu saat acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan di Gorontalo beberapa hari yang lalu.

Baginya, itu adalah sesuatu yang sangat ironis dan memprihatinkan mengingat Bung Karno dan Hatta adalah pemimpin negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia.

Dalam hal ini, mungkin mereka hanya sesekali dan jarang masuk masjid.

“Yang biasa masuk masjid malah yang bergolok (uang seribu rupiah bergambar Kapitan Pattimura membawa), (uang seratus ribu rupiah bergambar) Bung Karno dan Hatta yang berpeci malah jarang masuk masjid,” kata Muiz seperti dikutip dari laman nu.or.id

“Padahal yang pantes masuk (kotak) masjid adalah yang berpeci,” lanjutnya disambut tawa peserta pelatihan yang baru sadar bahwa yang dimaksud adalah uang pecahan seratus ribu.

Menurut saya, ada dua makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Pertama, umat Islam yang masih enggan memakmurkan keuangan masjid meski mereka sudah berada pada level hidup yang cukup.

Kedua, kondisi ekonomi umat Islam yang masih lemah sehingga mereka tidak mampu ‘memasukkan Bung Karno dan Hatta’ ke dalam masjid. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka masih kekurangan.

Untuk persoalan yang pertama, kita harus mengedukasi umat Islam agar cinta masjid dan bersedia untuk memakmurkannya, baik makmur dalam segi keuangan ataupun program-programnya. Sementara untuk problem yang kedua adalah juga tugas bersama umat Islam.

Bagaimana umat Islam yang sudah makmur bisa membantu untuk memakmurkan saudaranya yang belum makmur tersebut. Sehingga mereka bisa membuat Bung Karno dan Hatta masuk masjid.(lis)

Penulis: Lisma
Editor: Lisma
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help