TribunSumsel/

Bedakan Selaput Dara Robek karena Suka Sama Suka atau Diperkosa

Ada UU terbaru korban perkosaan boleh melakukan pengguguran. Tetapi, proses itu pula tidak serta merta dapat dilakukan

Bedakan Selaput Dara Robek karena Suka Sama Suka atau Diperkosa
pure-t.ru
Linda Jual Perawan 

PALEMBANG, TRIBUNSUMSEL.COM - Polisi menggerebek praktik aborsi ilegal di tempat praktik Yayasan Dokter Bersama di Jl Jenderal Sudirman Palembang, Rabu (6/12) pukul 18.00.

Dua orang ditangkap, dr WG (70) dan pasiennya, NM alias Mia (24), mahasiswi asal Baturaja, Kabupaten OKU.

Kedua orang itu masih menjalani pemeriksaan penyidik di ruang Renakta Subdit IV Ditreskrimum Polda Sumsel, Kamis (7/12). Informasinya, dr WG ditangkap setelah menyuntik Mia menggunakan obat penghancur janin.

Kasus ini menarik perhatian dokter-dokter di Palembang, di antaranya Ketua FOGI Sumsel, Dr dr Kms Yusuf Effendi SpoG(K).

Yusuf mengatakan, proses pengguguran atau yang biasa dikenal dengan istilah aborsi, berdasarkan UU memang boleh dilakukan.

Akan tetapi, aborsi tidak bisa langsung dilakukan berdasarkan keputusan dokter secara individu. Harus melalui mekanisme yang panjang hingga bisa dilakukan aborsi secara legal.

"Ada tiga faktor dokter bisa melakukan pengguguran janin setelah melalui proses persetujuan tim rumah sakit," katanya.

Menurut Ysuf, faktor karena janin yang tidak berkembang, janin yang mati dalam kandungan, indikasi medis bila janin mengancam nyawa ibu dengan contoh ibu yang ada penyakit jantung grade 4, bisa diambil langkah digugurkan kandungannya berdasarkan persetujuan tim rumah sakit.

Tidak ada dokter melakukan pengguguran janin berdasarkan indikasi permintaan. Bila melakukan pengguguran berdasarkan permintaan individu, dan dokter tanpa melalui rapat tim, itu disebut tindakan ilegal.

"Tetapi, bila pengguguran berdasarkan hasil rapat tim rumah sakit, itulah yang disebut ilegal," katanya.

Namun, ada UU terbaru korban perkosaan boleh melakukan pengguguran. Tetapi, proses itu pula tidak serta merta dapat dilakukan antara korban dan dokter.

Sebelum dilakukan tindakan medis pengguguran, harus dibuktikan terlebih dahulu melalui pemeriksaan analisis pertanyaan terhadap korban  dan pemeriksaan medis untuk melihat robek di selaput dara.

Menurut Yusuf, robek korban perkosaan dan suka sama suka berbeda, saat dilakukan pemeriksaan secara medik pasti akan menunjukan perbedaan.

Selain itu, adanya rekomendasi dari pihak kepolisian bila memang tindakan medis pengguguran dilakukan bagi korban pemerkosaan.

"Dalam dunia medis, tindakan yang diambil untuk pengguguran janin juga ada dua kategori. Untuk janin di bawah 5 bulan, biasanya disebut dengan digugurkan. Tetapi, untuk janin di atas 5 bulan biasanya disebut dilahir," katanya.

Penulis: M. Ardiansyah
Editor: Aang Hamdani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help