TribunSumsel/

Lewat Jalan Longsor Malah Dimintai Uang Rp 100 Ribu

Sepanjang lebih kurang 8 Kilomter tersebut lebih kurang ratusan oknum warga yang berada di beberapa titik, yang meminta uang.

Lewat Jalan Longsor Malah Dimintai Uang Rp 100 Ribu
sripo/Alan
Sepanjang lebih kurang 8 Kilomter tersebut lebih kurang ratusan oknum warga yang berada di beberapa titik, yang meminta uang. 

MUARADUA, TRIBUNSUMSEL.COM--Pasca bencana longsor 9 November lalu, Jalan Lintas Provinsi Pulau Beringin menuju Provinsi Bengkulu tepatnya di ujung Desa Sadau Jaya Kecamatan Sungai Are hingga perbatasan Kabupaten Kaur kondisinya makin parah, Senin (4/12).

Buruknya akses Jalan alternatif Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menuju Bengkulu Selatan kini dimanfaatkan oknum warga sekitar menjadi tempat pungli bagi para pengendara yang hendak melintas.

Pantauan di lapangan, Senin (4/12) , sepanjang 8 Kilometer jalan yang belum di aspal atau cor beton masih berupa tanah kuning yang memakan waktu tempuh dengan 4 hingga 6 jam dengan kendaraan roda dua. Sementara kendaraan roda empat sama sekali tak bisa melewati jalur tersebut. Terlebih jikalau cuaca buruk, pengguna jalan harus berjuang mati-matian agar bisa melewati badan jalan.

Badan jalan membentuk siring dan licin serta timbunan tebing tanah longsor yang berada di pinggiran jalan yang sehingga sulit dilewati tanpa alat tambahan pendukung.

Bagi pengendara yang mengetahui medan perjalanan, sengaja membawa peralatan tambahan seperti rantai untuk pelapis roda motor mereka agar bisa melewati badan jalan.

Selain itu, beberapa titik longsor yang sepenuhnya belum ditanggulangi pemerintah terkait, hingga material longsor setinggi 2 meter belum dibersihkan, akibatnya warga secara manual membersihkan material tersebut. Hanya saja warga yang membersihkan jalan tersebut meminta uang jasa untuk meringankan pengguna jalan.

Sepanjang lebih kurang 8 Kilomter tersebut lebih kurang ratusan oknum warga yang berada di beberapa titik, yang meminta uang.

"Sukarelanya mas, untuk perbaikan jalan,"tutur salah seorang pembersih jalan.

Kondisi ini menimbulkan keresahan pada pengguna jalan yang terpaksa mengeluarkan uang untuk melintas.

"Kami cuma jalan beberapa puluh meter saja sudah ada yang meminta biaya bayaran untuk perbaikan jalan," ujar pengendara yang enggan namanya ditulis.

Ia berharap pemerintah provinsi dan pemkab bisa segera menangulangi akses jalan yang tertutup timbunan longsor.

Pengguna jalan jalan lain mengaku sangat resah dengan aksi oknum warga, karena para sukarelawan yang membersihkan jalan mempunyai peralatan lengkap, seperti cangkul dan pisau jenis parang.

"Ngeri mas, kalo tidak dikasih nanti mereka marah, mereka punya sajam lagi,"keluh seorang warga Waryo, dari Desa Padang Sari Kecamatan Buay Runjung yang hendak datang ke Air Sakti Keluang batu api Bengkulu Selatan.
Biaya yang dikeluarkan hingga tiba dilokasi berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu setiap kendaraan hingga sampai ke perbatasan. (cr28/SP)

SRIWIJAYA POST : ALAN NOPRIANSYAH
PUNGLI : Pengendara di stop untuk diminta uang perbaikan jalan, Senin (4/12/2017)

Editor: Erwanto
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help